Hari Selasa waktunya Makam Panchake dibanjiri virus pink dalam program Parade Cerita Cinta. Untuk minggu ini, Panchake mengangkat tema "Kejutan". Siapa sih yang nggak suka sama kejutan, apalagi kalo kejutannya manis bin romantis. Seperti apa para Hantu Panchake memaknai tema tersebut, berikut ini daftar karya yang telah direkap oleh admin.
Jika mengungkapkan cinta itu mudah, tentu aku sudah bersanding dengannya sekarang. Bisa jadi aku akan mengurangi populasi jomblo ngenes yang cuman bisa memandang hujan saat malam minggu datang lalu berdoa agar hujan tak jua reda, mengenaskan bukan? Bahkan untuk sekedar menyapa dia, ehem ... gadis berambut hitam dengan mata cokelat sayu yang duduk di bangku paling depan dekat pintu kelas seberang itu aku tak punya keberanian. Klise, aku layaknya penggemar rahasia yang kadang mencuri pandang di sela-sela pejaran Guru Fisika yang membuatku bosan karena rumus yang tak pernah mau nyantol di otakku. Mungkin memori kapasitas otakku telah didesain untuk tidak menangkap pelajaran fisika dalam bentuk apapun, secuil radar ilmunya pun tidak, mengenaskan!
Kembali ke dia penghuni bangku pojok depan dekat pintu, uh ... penghuni? Bukan, maksudnya bidadari berwujud manusia yang duduk di bangku pojok depan itu bernama Ulfa, dia cantik dan kecantikannya tak seperti cewek lainnya, itu di mataku, kalau di mata kalian aku juga tak tahu. Hampir 5 semester aku mengaguminya, namun takdir seolah bertolak belakang dengan impianku untuk mendapatkan hatinya. Atau Tuhan sedang menitipkan ujian cinta yang aku harus aku tempuh untuk menjadi takdirnya.
“Sampai kapan Loe mau mandangin dia terus, Nan?” Aria teman sebangkuku menyenggol sikutku lumayan keras.
“Berisik Loe, siapa yang mandangin,” lirihku pada Aria, lalu mengalihkan pandanganku berpura-pura sibuk mencatat pelajaran Fisika yang tertulis di Whiteboard.
“Ha ... ha .... Loe mau nyatat apa, Nan. Tulisan yang di papan tulis itu udah halaman kelima sejak kamu melamun, ehem bukan mengintai, ah terlalu lebay. Maksudnya mandangin dia terus,” tunjuk Aria ke arah Ulfa, aku pun langsung melipat tangannya sebelum Pak Aryo si guru Fisika melihat kelakuan noraknya.
“Singkirkan tangan loe, loe tuh malu-maluin aja, gue gak mandangin dia,” elakku pada Aria.
Aria terkikik menahan tawa, sialan dia mengejekku. “Yakin? Duh manisnya sahabatku Dinan ini kalau lagi bohong,” ujarnya sambil menowel daguku, ih ... dia membuatku risih dengan tingkahnya, bagaimana jika orang lain lihat, bisa jadi mereka berpeikir kalau aku dan Aria ini bukan pria normal dalam tanda kutip kamu tahu sendirilah tanpa kusebutkan.
“Aria, STOP!!!” teriakku sambil berdiri, seisi kelas menoleh padaku termasuk Pak Aryo yang langsung menatapku tajam.
Mati Aku!
“Dinan!!! Seusai pelajaran kamu ke ruangan saya!!!” teriak Pak Aryo dengan napas yang hampir menyembur ke seluruh penjuru kelas.
“Ba-Baik, Pak,” aku mendengus kesal, lalu melirik Aria dengan tatapan, “Awas kamu!!!” sementara Aria malah tersenyum cekikikan.
***
Aku berjalan menyusuri lorong kelas dengan hati berdebar. Ah ... sial, aku harus menerima konsekuensi dari perbuatan yang tidak sepenuhnya salahku, apa rasa mengagumi titipan Tuhan ini salah?
Kuketuk pintu bercat cokelat dengan papan kecil bertuliskan “Ruang Guru” dengan sedikit gemetar.
“Masuk,” terdengar suara Pak Aryo dari dalam, aku pun membuka pintu.
Dia? Kenapa dia ada di sini?
Pandanganku langsung tertuju pada Ulfa yang tengah duduk di depan Pak Aryo sambil menatapku dengan senyum tersamar di sudut bibirnya.
“Duduklah, Nan,” perintah Pak Aryo, kugeser kursi di samping Ulfa lalu duduk.
Mataku mencuri pandang pada gadis di sampingku yang tengah berlindung di bawah mata sayunya lalu menunduk ketika kilatan ujung mataku menyambarnya. Ulfa tersenyum malu, apa aku begitu kentara menyukainya.
“Ehem,” suara deheman Pak Aryo mengagetkanku, aku tergagap lalu memandang Pak Aryo, untuk sementara mari kita dengarkan hukuman apa yang akan dia berikan.
“Dinan, akhir-akhir ini saya lihat nilai fisika kamu terus menurun, ada apa denganmu?” tanya Pak Aryo padaku, “Apa kamu tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran yang saya berikan?” lanjutnya lagi.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, bagaimana aku bisa konsentrasi belajar bila gadis manis di sampingku ini selalu menyita konsentrasiku. Haruskah ini aku jelaskan padamu pak guru Fisika yang bahkan dalam rumus apapun tak dijelaskan.
“Hem ... mungkin Pak, saya kurang begitu memahami yang Bapak ajarkan,” ujarku beralasan.
Tunggu! Apa Ulfa juga di panggil karena kasus yang sama denganku? Apa dia juga bodoh sama sepertiku?
“Baiklah, kalau begitu besok kamu ikut les tambahan,” tegas Pak Aryo.
Hah! Les tambahan? Demi apapun di dunia ini mendengar pelajarannya yang hanya dua jam setiap seminggu dua kali sudah cukup membuatku migrain apalagi ditambah dengan les tambahan. Mau jadi apa masa depanku nanti, sudah bisa dipastikan rambutku akan lebih cepat beruban dari masa aktifnya. Wajahku yang setampan Taylor Lautner ini bisa dipastikan akan menjadi makhluk langka abad ini, jenis spesies langka yang akan segera punah.
“Iya, Ulfa yang akan mengajari kamu.”
Cless ... seperti ada yang menyejukkan hatiku ketika nama Ulfa disebut, aku bahkan mengulang-ulang ucapan Pak Aryo barusan masih mendelik tak percaya. Kenapa gak bilang dari tadi Bapak Aryo ini, tahu gitu aku pasti langsung setuju.
“Maksud Bapak?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Iya, Ulfa ini murid terpintar di kelasnya apalagi soal Fisika dia ini jagonya, kamu bisa les privat sama dia, saya sudah tanya Ulfa dan dia bersedia ngajarin kamu,” jelas Pak Aryo.
Membayangkan les privat berdua saja dengan Ulfa sudah membuat hatiku berdetak tak sesuai porsinya, apalagi berduaan dengannnya aku yakin jantungku harus terbiasa terkena serangan kecil dadakan.
“Hai, kita belum kenalan, aku Ulfa” ujarnya menyodorkan tangan.
“Aku sudah kenal kamu kok bahkan sejak semester awal,” desisku pelan.
“Apa?” selidik Ulfa yang ternyata mendengar desisanku.
“Ah, enggak. Aku Dinan,” ujarku menyambut uluran tangan Ulfa.
“Jadi gimana? Apa kamu mau Dinan?” tanya Pak Aryo, dengan sigap aku mengganggup, “Siap Pak, aku menerimanya,” ucapku sambil tersenyum lebar. Mana mungkin aku bisa menolaknya?
***
Itu hari pertama yang tak pernah kulupakan dalam hidupku, hari pertama aku berjabat tangan dengan orang yang kukagumi selama lebih dari 5 semester, bayangkan! Dan hari pertama di mana hubungan kami dimulai, hubungan antar teman maksudnya. Setiap kali ingin memintanya untuk menjadi milikku, selalu saja ada badai yang entah itu muncul dari mana, sampai hari ini badai itu mencapai klimaksnya.
“Kamu mau pergi?” tanyaku heran ketika sore ini Ulfa berpamitan padaku, dia akan pindah ke Medan.
“Iya, orang tuaku pindah tugas, jadi aku harus ikut,” jelas Ulfa sambil memakan cokelat batangan, ya dia suka sekali cokelat, apa itu juga yang membuatnya bertambah manis. Wajahnya terlihat berat meninggalkan kota ini.
“Tidak bisakah kau tinggal?” tanyaku pada Ulfa, dia menggeleng pelan.
“Aku suka kota ini, aku suka teman-temanku, tapi aku harus pergi,” ujarnya dengan wajah berbinar.
“Aku pasti akan merindukanmu,” aku menunduk dalam dan mendesis pelan, lelaki macam apa kau ini? Harusnya aku mengatakan padanya aku mencintainya, tapi entah kenapa kata-kata semacam itu selalu nyangkut di tenggorokanku.
“Aku juga,” ujarnya sambil tersenyum. Dia mendengar ucapanku yang langsung membuatku salah tingkah.
“Tunggu sebentar,” ujarku begitu melihat toko buku di seberang jalan, aku pun berlari meninggalkan Ulfa, aku ingin memberinya hadiah sebelum dia pergi.
Aku berjalan menyusuri lorong yang berisi novel-novel romantis, kuambil satu lalu keserahkan ke kasir, tak lupa kusahut sebuah kartu ucapan dan bolpoin, kutuliskan sebuah pesan singkat pada kartu ucapan itu, semoga Ulva memahaminya.
Ulfa, aku menyukaimu ...
Lalu kuselipkan pada lembaran novel yang telah ku buka plastik pembungkusnya.
Jeder!!!
Kilat tak bernyawa sedang menyambar ubun-ubunku, Aria menggandeng mesra tangan Ulfa sambil saling melempar senyum di luar toko buku, masih di taman tempatku dan Ulfa tadi bertemu. Aku pun segera berlari ke arah mereka.
“Hai, Nan,” sapa Aria sumringah, aku mengabaikannya.
“Dinan, kenalin ini Aria, pacar baruku,” tunjuk Ulfa pada Aria.
Tunggu aku ketinggalan part dimana Ulfa dan Aria jadian, bahkan Aria tak bilang padaku kalau dia mencintai Ulfa.
“Sorry, Bro. Gue dijodohin ma nyokap sama Ulfa, Loe tahu nyokap gue kan? Dia bisa mati jantungan kalau aku gak menjalankan misi negaranya,” bisik Aria pelan di telingaku. Sial, aku yang telah berjuang selama 5 semester, tapi justru keadaan berbalik hanya karena serangan Emak Aria yang datang tiba-tiba, benar-benar counter attack yang di luar prediksiku.
“Jaga dia baik-baik, kalau tidak kubunuh kau,” ancamku pada Aria, dia tersenyum lalu menyalami tanganku dan pergi bersama pujaan hatiku yang telah berlalu.
Sialan, aku terlambat. Kamvret ... Ini semua bukan salah Ulfa, bukan salah Aria tapi salahku. Ya ... terlalu lama memendam perasaan tanpa mampu mengungkapkan bisa jadi temanmu duluan yang mendapatkan cinta yang kau dambakan.
TAMAT
Ternyata hanya ada satu karya yang berhasil terdata. Nggak apa-apa, mari kita ucapkan selamat dan dukungan kepada Endang Indri Astuti, agar terus mempertahankan semangatnya menulis dan menciptakan karya. Berikan apresiasi berupa saran serta kritik yang membangun di kolom komentar. Sealmat membaca dan salam iterasi!
Berikut ini adalah rekapitulasi karya para hantu Panchake untuk Parade Cerpen Bebas edisi 16 Februari 2015. Seperti yang diketahui bahwa Parade Cerpen Bebas merupakan wadah bagi para hantu menyalurkan hobinya menulis dengan tema apa pun dan dengan genre apa pun.
Cinta. Satu kata itu sudah tidak asing lagi bukan? Hanya sebuah kata sederhana dengan lima huruf di dalamnya, tapi bermakna begitu besar.
Kau tahu? Cinta bisa membuatmu menjadi lebih lemah atau malah menjadi lebih kuat. Cinta bisa membuatmu bahagia dan sengsara dalam waktu yang bersamaan. Cinta juga bisa merubah hidupmu. Menjadi gelap atau terang. Kita juga tidak bisa menentukan pada siapa kita jatuh cinta, dan kapan cinta itu akan berakhir, karena takdir yang akan menentukannya.
Kau tidak akan bisa melakukan apapun saat kau sudah jatuh cinta. Cinta itu akan mempengaruhi akal sehatmu, membuatmu tidak bisa berpikir panjang. Kau bahkan akan melakukan tindakan bodoh apapun hanya untuk cinta. Kau juga akan terus bertahan walau kau sudah lelah untuk cinta. Ya, cinta memang bisa memperbudakmu. Jadi, berahati-hatilah jika kau sudah jatuh cinta.
Kau juga harus ingat, bahwa setiap orang memiliki pendapat berbeda tentang cinta. Dari pendapat yang membuatmu tersentuh hingga yang kau anggap tak masuk akal.
Inilah salah satu cerita cinta yang bisa memperbudakmu sesukanya. Selamat membaca!
***
Aku lelah, sangat lelah. Tapi cinta ini, sangat kuat untukmu, membuatku terus berjuang agar kau dapat berubah. Nyatanya, setelah bertahun-tahun mencoba, kau masih seperti yang dulu. Aku, kau perlakukan seperti barang. Kau hanya datang padaku, saat kau membutuhkanku, dan pergi begitu saja saat kau tak lagi membutuhkanku.
Jika kau memang tak menginginkanku, mengapa kau tidak membuangku saja? Apa karena sumpah pernikahan yang pernah kau ucapkan bertahun-tahun yang lalu? Atau, karena kau menginginkan apa yang kumiliki? Melepaskanku lebih baik dibandingkan kau begini, memberiku harapan kosong yang tak berujung. Memberiku luka batin yang dalam.
Aku telah memberikan segalanya untukmu. Ya, segalanya. Hingga aku rela pergi meninggalkan keluargaku, cita-cita, dan hal berharga lainnya hanya untukmu, untuk cintaku, cinta gila yang tak akan pernah padam baranya.
Kau menduakanku, dan aku masih saja diam di tempat. Tak beranjak sedikit pun. Jangan kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini. Kau selalu bersenang-senang dengan para wanita jalang itu, sementara isterimu sendiri kau abaikan. Kau berfoya-foya di luar sana, dan aku di sini mencari uang untuk kita.
Banyak orang yang bilang bahwa aku ini pintar, cerdas, dan terpelajar. Kenyataannya? Aku begitu bodoh. Bodoh karena aku masih saja bertahan denganmu, setelah selama ini kau melukaiku, baik fisik maupun batin.
Jika aku mau, aku bisa saja meninggalkanmu dan menikah dengan pria lainnya. Pria yang lebih baik darimu. Tapi cinta gila ini menahanku untuk tetap setiaa di sisimu hingga kau benar-benar membuangku.
Orang-orang bilang, kita adalah pasangan yang serasi dan saling melengkapi. Aku merasa sangat beruntung mendapatkanmu, tapi kau selalu berkata aku adalah pembawaa sial untukmu.
Saat kita berpacaran dulu, kau begitu manis. Kau selalalu memberikan apa yang kuinginkan, janji manis selalu terucap dari mulutmu, semua itu membuatku melayang. Tapi kenapa? Kenapa kau berubah semenjak menikah?
Kau sangat jarang pulang ke rumah ini. Tapi saat kau pulang, kau selalu pulang dalam keadaan mabuk berat. Esoknya, setelah kau sadar, kau kembali pergi entah ke mana.
Kau tahu bukan bila keluargaku tidak merestui pernikahan kita karena sebuah peristiwa di masa lalu? Aku tidak memikirkan restu dari mereka, aku hanya memikirkanmu, hanya kau dan aku tidak pernah menyesal. Tapi kini walaupun kau terus begini, aku masih tetap tidak menyesal.
Aku sangat rindu kau yang dulu. Yang selalu memanjakanku. Tidak bisakah kau kembali seperti dulu? Tuhan, aku selalu berdoa padamu, tapi kenapa kau tak mengabulkannya? Apa aku ini pendosa? Atau memang aku tak lagi berati di matamu?
Aku akan terus berjuang untukmu, suamiku. Tapi suatu saat nanti, aku juga pasti akan menyerah. Dan saat itulah, aku akan mati membawa cintaku untukmu yang akan selalu abadi.
Dari isterimu, Diana.
***
Aku terduduk lemas di lantai setelah membaca surat dari Diana yang dia berikan sebelum dia kecelakaan kemarin sore. Kebetulan kemarin sore aku pulang ke rumah ini, entah kenapa aku sangat ingin bertemu dengan Diana.
Air mata tidak mau turun dari kelopak mataku, padahal saat ini hatiku sangat sesak, bagaikan dihimpit dua buah batu besar.
Kuakui semua yang dia tulis di surat itu benar adanya. Aku melakukannya karena aku menganggap dia pembawa sial untukku. Sejak kami menikah beberapa tahun lalu, masalah tidak pernah berhenti berdatangan. Kematian orangtuaku, kebangkrutan perusahaan yang kubangun dari nol, dan hal lainnya. Anggaplah kalau aku ini kekanakan, tapi bagaimana mungkin aku tidak seperti itu, sementara keluarga besarku selalau bicara tentang hal itu?
Dan, kenapa aku tidak pernah melepaskannya, itu karena aku mencintai dia. Aku tidak mau dia jatuh ke tangan orang lain. Aku egois, ya sangat egois. Tapi sudah terlambat untuk menyesal. Dia tak akan mendengarkan penyesalanku, karena dia sudah tidak lagi di sisiku, dia sudah kembali ke pangkuan Tuhan.
Diana, maafkan aku. Maafkan atas segala sikap dan prilakuku selama ini. Dan, Tuhan maafkan hamba-Mu ini yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Terimalah dia di sisi-Mu.
Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, biarlah aku yang menanggungnya. Aishiteru yo ....
***
Aku membuka mataku perlahan. Sial. Kepalaku terasa sangat berat. Dengan sedikit memaksa, aku bangkit dari tidurku. Ekor mataku menangkap sosok yang sedang terbaring di sebelahku.
Seorang gadis, dengan rambut hitam panjang. Tubuh mungilnya hanya terbalut kemeja besar putih yang aku yakini bahwa itu adakah kemejaku.
Hampir saja aku menjerit. Aku belum pernah membawa seorang gadispun ke rumah. Apalagi sampai menginap seperti ini.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Seingatku, aku dan Daichi, pergi ke- .... Aku ingat sekarang. Daichi mengajakku ke taman, dan dia menawariku minum untuk merayakan berakhirnya ujian kelas tiga.
Kami agak mabuk, lalu saat perjalanan pulang, kami menemukan gadis ini. Meringkuk di sudut taman dalam keadaan basah dan menggigil. Lalu aku membawanya pulang.
Aku merutuki diriku yang dengan bodoh mau saja tergoda untuk minum. Tapi lebih bodoh lagi karena aku membawa gadis yang tidak dikenal ke rumah.
"Mm ...." Gadis itu mulai terbangun, lalu menatapku. Matanya sungguh cantik. Aku seperti terhisap ke dalamnya. "Pagi," sapanya sambil tersenyum. Oh, Tuhan. Aku benar-benar berharap bahwa ini adalah mimpi.
***
Gadis itu bernama Sakura. Dia bilang, dia berasal dari masa lalu. Tapi aku tidak percaya. Mungkin dia hanya gadis aneh yang sedang berhalusinasi.
Sialnya, aku terjebak bersamanya. Untung saja orang tuaku sedang berada di luar kota untuk beberapa minggu ke depan. Tapi, aku tidak mungkin terus-terusan membiarkannya di rumah.
"Mungkin aku harus mencari keluarganya," ucapku. Daichi tertawa, lalu menatapku. Saat ini, kami tengah berada di taman. Tempat kami menemukan Sakura.
"Bukankah dia bilang dari masa lalu?" Aku melirik Daichi, lalu kembali melihat Sakura yang tengah asyik bermain air pancuran.
Memang, saat kami menemukannya, dia mengenakan kimono besar berwarna ungu, seperth gadis-gadis jaman dulu. Aku harus membelikannya baju karena tidak mungkin dia keluar dengan kimono seperti itu.
"Bukankah dia cukup cantik?" tanya Daichi sambil menenggak habis kopinya. Memang, Sakura sangat cantik, dan aku lumayan menyukainya. Tapi aku tidak tahu apa dan siapa dia.
"Aku seorang shirabyoushi," ujarnya saat aku menanyakan tentang dirinya.
"Shira- apa?"
"Shirabyoushi. Aku seorang penyanyi dan penyanyi. Aku menghibur para tamu yang datang ke istana," jelasnya.
"Hmm .... Bagaimana kau bisa sampai di taman?" tanyaku. Untung saja kamarku lumayan lebar. Jadi Sakura bebas berlarian di sini.
"Entahlah. Saat itu bulan gelap. Aku sedang menyanyi untuk Tuan Ryoha. Tahu-tahu, saat tengah menari, aku seperti terseret dan sampai di taman. Lalu aku bertemu denganmu," jelasnya lagi. Aku mencoba berpikir. Bulan gelap? Purnama?
Haaah .... Aku tidak mengerti sama sekali. Sakura menatapku. Dia kemudian mengambil sebuah kipas kayu yang berada di atas meja, kemudian bernyanyi. Suara dan tariannya sangat indah. Aku merasa seluruh tubuhku ringan. Tak lama, aku terlelap.
***
Sudah hampir satu bulan Sakura tinggal di rumahku. Aku merasa mulai nyaman dengannya sekarang.
"Aoi, jika di istana, aku tidak boleh memiliki perasaan pada lelaki lain," ujar Sakura. Aku menatapnya yang tengah duduk di sisi tempat tidur.
"Kau menyukaiku?" tebakku. Aku melihat wajahnya langsung merona. Ekspresinya benar-benar membuatku gila. Aku mendekatkan wajahku, lalu mengecup pelan bibirnya.
"Jika ini di istana-,"
"Tapi ini bukan di istana. Ini rumahku, dan aku berharap, kau berada di sisiku selamanya," ucapku. Sakura membelalakkan matanya. Dia mengangguk pelan, kemudian memelukku.
"Saat aku bernyanyi di istana, aku berharap aku bertemu dengan cinta sejatiku. Lalu aku sampai di sini. Mungkit langit, menjawab permintaanku," bisiknya lembut. Aku mengangguk.
Aku pikir, kami dapat bersama. Namun aku salah. Tubuh Sakura tiba-tiba saja bercahaya. Aku menatapnya bingung.
"Aoi, bulannya ...." Aku menoleh ke arah jendela. Bulan purnama. Jangan-jangan ....
"Sepertinya langit tidak ingin kita bersama ...," ujarku pahit. Sakura menggelengkan kepalanya. Dia mencengkram bajuku erat.
"Aku, tidak ingin berpisah!" teriaknya. Tubuh Sakura mulai terlihat menghilang. Wajahnya di basahi air mata. "Aku ...mencintaimu, Aoi"
Dalam hitungan detik, Sakura menghilang dari pandanganku.
***
Aku menatap ke arah taman, tempat pertama kali kami bertemu. Semuanya terasa seperti mimpi.
"Aoi ...." Aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Rasanya aku seperti mendengar suara Sakura.
Aku menggelengkan kepalaku pelan, lalu berjalan meninggalkan taman.
Kau terduduk di tepi pantai. Diwarnai sinar matahari yang kejinggaan. Menghiasi lagit sore. Kau buang tatapanmu jauh ke seberang lautan sana. Menembus lengkungan bumi pembatas. Sedang seseorang di sampingmu memandangimu dari tadi. Kau tak menghiraukannya, bahkan kala rambut panjangnya beterbangan ke tubuhmu pun kau tak merasa. Kau sedang hanyut dalam kecamuk pikiran, kau sedang dalam masalah.
"Aku lelah, kau tahu itu. Bukan kau saja yang merasakan beban ini. Ingat, masih ada aku." ujarnya lagi.
Ia kemudian berubah sepertimu. Membuang wajah ke arah lautan yang kini telah berubah warna, lautan jingga. Sekarang terbalik, kau yang seperti dia tadi. Kau memandanginya. Seakan kalian tak ingin saling menatap. Ada apakah?
"Aku tahu kau juga sakit akan hal ini. Orang tua kita tak menyetujui hubungan ini. Mereka saling membenci karena masa lalu mereka yang berpautan itu."
"Lantas, kita harus berdiam dan pasrah dijodohkan?" sahutnya setengah berteriak. "pengecut. Kau tak ingat berapa lama kita sudah menjalin hubungan ini hah? 15 tahun bukan hal yang mudah bagiku. Ini sia-sia."
Kau terdiam, dalam hati kau mengakui bahwa kau memang takut untuk berontak pada orang tuamu. Kau mengakui bahwa kau memang pengecut. Namun kau juga perih atas ucapannya, kau tak ingin kehilangan dia. Kau sangat mencintainya.
"Tolonglah kau jangan kasar padaku, Dea!" pintamu dengan ketus.
"Oh Tuhan, sekarang kau pikirkan nasib perutku ini! Aku hampir gila." Ia berdiri menjauhimu.
Kau masih duduk memandangi tubuhnya. Kau menyelidik, benarkah ia hamil, pikirmu.
"Jangan bergurau Dea, saat seperti ini kau malah mengatakan itu!" Kau marah, kau bangun dan menarik tangannya yang hendak menjauh.
"Lepas! Ia aku hamil, ini anakmu. Lupakah dengan malam valentine beberapa bulan lalu?" Ia berbalik menatapmu buas. "sepertinya kau benar-benar lupa akan janjimu padaku malam itu."
Kau terdiam lagi. Kau mengingat sesuatu. Dan sekarang kau ingat, kau berjanji padanya akan menikahinya. Kau membuatnya yakin bahwa kau akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Toh katamu, kau akan menikahinya jua. Tapi saat itu kau tak tahu bahwa kerumitan akan datang di hubunganmu. Orang tuamu belum tahu saat itu siapa orang tua kekasihmu. Acara lamaran itu gagal karena kekasihmu adalah anak dari orang yang menyebabkan perusahaan ayahmu bangkrut.
"Kau serius," kau mengguncang tubuhnya.
Sementara, ia berontak ingin kau melepaskannya. Ia menangis. Kau melepaskan tubuhnya. Ia terduduk.
Kau berteriak pada langit yang mulai gelap itu. Ini sama gelapnya dengan pikiranmu sekarang. Kau pusing.
"Aaaaaaarrrrrrhhhhhhh,,," teriakmu.
"Berhentilah kau berteriak. Menambah kacau saja." bentaknya.
Ia berdiri menghampirimu.
"Sekarang kau pilih, kita pergi dari rumah atau aku gugurkan anak ini dengan resiko nyawaku juga akan hilang. Sebab aku akan membunuh diriku. Bisa juga dirimu." ucapnya penuh amarah.
Kau masih berdiri dalam kebingungan. Ya, kau benar-benar bingung. Kau berpikir sangat jauh sekarang. Beda dengan malam itu, kau sedang dikuasai nafsu. Kau takut kau akan kelaparan nanti. Kau bingung jika pergi dari rumah kau akan tinggal di mana. Kau juga bingung anak itu nanti jadi apa. Kau ketakutan akan hidupmu yang semakin suram kelak.
"Bagaimana caranya kita kawin lari?" tanyamu keras. Membuat beberapa turis yang kebetulan melewatimu menoleh. Mereka berpikir pasti kau telah menghamili gadis yang ada di sampingmu. Namun itu benar, tak luput tebakan mereka. Seandainya lotre, mereka pasti telah meraup banyak uang.
"Kenapa aku yang harus memikirkan?" teriaknya.
"Ini tentang kita sayang!" balasmu.
"Kita? Tidak, kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Aku sudah lelah dengan perut ini. Hasil dari janjimu malam itu."
Kalian saling menatap. Kini tanpa bicara. Entah hanya bicara lewat isyarat sekarang, namun ia segera mengalihkan tatapannya menjauhimu.
***
Langit mulai gelap seutuhnya. Hari sudah malam, namun kau masih saja di sana dengannya. Masalahmu belum habis walau malam telah datang. Rupanya ia tak membawa serta masalahmu.
"Aku ingin pulang, antarkan aku." pintanya. Ia mengagetkanmu.
"Pulang?" sahutmu. Kau lalu tersenyum ketus. "masalah kita belum selesai Dea. Kita harus mencari jalan malam ini juga. Kau mau perutmu semakin menggelembung, hah?" ancammu.
"Terserah," sahutnya.
Kau diam lagi. Sedikit sesalmu membentaknya dari tadi. Tapi kau enggan mengaku bahwa kau yang salah. Kau malu jika kau harus terlihat lemah di depannya.
"Cepatlah," pintanya. "aku akan pulang sendiri jika kau tak mau, " ia balik mengancammu.
Kau akhirnya mengalah. Kau takut juga kalau ia meninggalkanmu.
"Iya sayang, tapi sebentar," ujarmu tiba-tiba lembut.
"Drama apalagi yang kau mainkan agar aku di sini tanpa kepastian?" tuduhnya.
Kepalamu terasa berat. Kau muak juga dengan ucapannya. Kau lagi-lagi hendak marah padanya. Namun saat kau menatap matanya, kau melihat bahwa ia hendak menangis. Cepat kau rengkuh tubuhnya dalam pelukanmu. Kini ia benar-benar menangis.
"Maafkan aku Dea, maafkan. Aku tak mengerti akan masalah kita. Aku terlalu pusing." jelasmu.
Kini ia melepaskan pelukanmu. Menyeka air matanya. "Lantas, kau akan mengabulkan permintaanku untuk kawin lari," tanyanya.
"Itu berat sayang. Nanti kita makan apa?"
"Itu masalahmu sebagai lelaki." jawabnya.
"Ini masalah kita," kau memegangi bahunya."plis sayang, lakukan pilihan kedua tapi jangan kau korbankan dirimu. Setelah itu kita pikirkan ide pertamamu." Kau membujuknya.
"Tidak bisa, kau pikir itu mudah?" Ia emosi lagi.
Kau yakin ini karena bayi itu ia gampang emosi. "Tidak rumit," katamu lagi. "ini hanya sebentar. Kau akan aman setelah itu. Aku pernah mendengarnya dari temanku."
Ia duduk. kakinya berselonjor di pantai. Hempasan ombak meraih-raih jari-jemarinya. Sementara kau, kau berdiri memandanginya.
"Kumohon sayang, ini agar beban di kepala kita berkurang."
Ia tetap diam, kau gelisah memikirkan cara agar dia mau melakukannya. Kau pikir itulah jalan terbaik bagi masalahmu. Kau tak memikirkan bagaimana jika itu membahayakannya.
Sepersekian lamanya kalian terdiam dalam remang-remang cahaya bulan purnama. Kebetulan mungkin, kalian tidak harus bergelap-gelapan.
Ponselmu berdering, kau merogoh saku. Dia memandangimu penuh tanya. Kau sedikit bingung dan mengacak-acak rambutmu saat kau menatap layar ponsel itu. Ada rasa takut untukmu mengangkatnya.
"Siapa?" tanyanya curiga.
Kau diam, menggigit bibirmu. Wajahmu nampaknya sedang berpikir keras.
"Siapa, selingkuhanmu? Oh aku tahu, dia yang dijodohkan denganmu." tuduhnya padamu.
Kau tertantang. Ponselmu berdering lagi untuk kedua kalinya.
"Iyaa Yah, maaf ga dengar." ujarmu keras-keras agar tak kalah dengan suara ombak dan angin yang berdesir.
"Kau di mana?" Suara dari ponselmu terus bertanya.
"Aku sedang di pantai, aku pulang malam." balasmu agak ragu.
"Pulanglah cepat, Ranti ada di sini."
Belum kau menjawab. Dia telah merebut ponselmu dan mematikannya. Ia gerah mendengar nama Ranti.
"Kenapa kau matikan?" tanyamu.
"Benar dugaanku. Kau telah setuju dengan orang tuamu. Lalu bagaimana aku, ini anakmu."
Ia berteriak memarahimu.
"Aku mencintaimu, percayalah sayang." rayumu agar ia menyerahkan ponselmu.
"Tidak, kau tak mencintaiku. Aku baru tahu kau lelaki pengecut."
Ia melempar ponselmu ke laut.
"Deaaaaaa," teriakmu.
"Sekarang kita pergi, aku ingin bahagia denganmu tanpa mereka, tanpa wanita gila itu."
Namun kau sangat emosi sekarang. Mungkin setan-setan sudah memenuhi kepalamu. Kau lansung mencekik lehernya. Ia meronta-ronta.
"Dian, te-ganya ka...au." ujarnya memegangi tanganmu yang masih di lehernya.
Kau seperti bukan lagi manusia sekarang. Kau buas, setan sudah meracuni pikiranmu.
Rupanya ia juga sangat kuat untuk menendang tubuhmu. Tanganmu terlepas. Kau terjungkal, terhuyung kesakitan. Yang ditendangnya adalah wilayah sensitifmu.
Ia juga penuh emosi sekarang.
"Mati kau!"
Ia memukul kepalamu dengan batu. Berkali-kali. Mencekik lehermu.
"Aku puas! Hahaha."
Ia terus tertawa, namun juga menangis. Ia menarikmu ke laut, memelukmu. Hingga kalian terbawa ombak menuju peristirahatan terakhir.
***
Matahari kembali muncul, laut kembali membiru. Orang-orang ada yang berlarian, ada yang duduk bermesraan di pinggir pantai. Tiba-tiba seseorang berteriak, dan semua yang ada di situ menatap ke arahnya.
"Ada mayaaaaatttt."
Kau di bawa ombak lagi ke pantai itu, mengegerkan para turis yang sedang berjemur. Matamu melotot, kaku. Sementara dia, seekor hiu telah memangsanya.
***
Kabar kematianmu telah tersebar di seluruh berita televisi di kotamu.
Mayatmu telah di bawa ke rumah sakit terdekat. Kini kau telah dimasukkan ke dalam kotak sempit. Ini membuatmu sesak, tapi kau tak bisa apa-apa.
Di sampingmu seorang gadis menangis. Bukan dia yang membunuhmu, gadis yang dijodohkan denganmu. Tampak juga kedua orang tuamu menangisimu. Mata mereka merah.
DBAAAAK! Seseorang datang memukul pintu dengan keras. Dia ayah kekasihmu.
"Di mana kalian sembunyikan anakku," teriaknya.
Para polisi segera membawanya.
Kau terpaku menatap mereka dari sudut ruangan rumah sakit itu.
"Ayo, sekarang kita pergi!" Kekasihmu datang, menarik tanganmu.
"Ke mana?" tanyamu.
"Ke alam kita, ini bukan tempat kita lagi, kita akan tenang merawat bayi kita di sana." jelasnya.
Ia tak lagi memarahimu. Sikapnya kembali lembut. Tak seperti malam itu saat kau dan dia dibakar emosi.
Sudah tiga tahun aku menjalin hubungan dengan Alun. Namun, baru kali ini ia mengajakku berlibur ke salah satu pulau yang tidak terlalu banyak pengunjung. Aku sedikit bingung, kenapa Alun mengajakku ke pulau yang jarang didatangi pengunjung. Tapi aku tidak ingin mengecewakan Alun, kuturuti saja apa yang sudah diminta olehnya, daripada kami bertengkar dan batal menikah.
Jumat sore kami berkumpul di rumah, setelah mempersiapkan barang yang akan dibawa. Sesuai permintaan Alun--Budi, Gunawan dan Rihana--turut serta dalam liburan yang akan dimulai pada pagi Sabtu mendatang. Tak terlalu banyak percakapan, kami pun berangkat menuju pulau yang sudah ditentukan.
Dalam perjalan menuju pelabuhan, kami berlima bersorak ria mendengarkan musik dan berkelakar di dalam mobil. Ketiga sepupuku itu--Budi, Gunawan dan Rihana--memang sangat dekat denganku, juga Alun. Kami kerap bersama sejak SMA, hingga bekerja di masing-masing perusahaan yang berbeda. Kini, kesempatan itu terulang lagi. Kami akan merayakan malam valentine di pulau yang terpencil. Tentu saja moment itu akan indah dikenang selamanya.
***
Sampailah kami di sebuah kapal sewaan yang akan mengantarkan ke pulau yang jarang dijamah manusia. Namun, pulau itu juga didiami oleh manusia. Rata-rata profesi mereka yang tinggal di sana sebagai nelayan yang pulang dalam hitungan bulan. Kami tidak terlalu memedulikan, kami hanya berharap liburan kali ini tidak mengecewakan.
Tibalah kami di pulau yang terpencil itu setelah menempuh perjalanan selama enam jam. Cukup melelahkan, apalagi kami harus berjalan menuju perkampungan dikarenakan kapal yang kami sewa tidak bisa membawa kendaraan yang kami punya. Sialnya, pemukiman penduduk cukup jauh dari tepi pantai, tempat di mana kami diturunkan. Aku merasa sangat kelelahan, namun masih butuh perjuangan sebelum sampai ke pemukiman. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan berjalan seiringan dan mengeluarkan senter sebagai penerang agar dapat melihat jalan. Sungguh melelahkan, melewati jalan setapak yang agak menanjak, ditambah rumput liar yang tumbuh menjalar cukup menyulitkan perjalanan.
"Apa kita tidak salah jalan?" Aku mulai kesal karena medan yang cukup menyulitkan. Kupertanyakan langsung kepada pemandu yang turut dalam perjalanan itu.
"Tidak Tuan! Inilah jalan menuju penginapan," jawabnya sambil memanggutkan kepala.
"Apa penginapannya jauh dari perkampungan?" Gunawan turut mempertanyakan.
"Ya, pulau ini hanya didiami beberapa kepala keluarga saja. Kalau jalan menuju perkampungan, sekitar seratus meter di sebelah kanan," balas lelaki tua yang memakai belangkon dan bertugas memandu kami di pulau itu.
"O, jadi begitu?" Budi menimpali.
"Tepat sekali!" Alun menyikapi.
"Kau pernah ke sini?" perempuan cantik dengan potongan rambut sebahu bertanya kepada perempuan cantik berkulit putih, dengan rambut panjang yang tergerai di sebelahnya--Alun.
"Tentu saja. Tapi, itu sudah sangat lama," jawab Alun.
"Tuan Niko! Sebentar lagi kita sampai. Itu penginapannya sudah terlihat," ujar si pemandu, yang mengaku bernama Danu.
Tidak ada yang menjawab, kecuali langkah yang semakin dipercepat. Rupanya bukan aku saja yang merasa lelah, tapi mereka semua berharap dapat beristirahat.
Di depan teras rumah kayu yang terlihat tak terurus, kami berlima termenung. Sementara Pak Danu membuka pintu.
"Silahkan masuk! Maaf, di sini tidak ada lampu. Tapi tenang! Di dalam ada lentera yang bisa digunakan sebagai penerang," jelas Pak Danu.
Kami pun segera masuk, sementara Pak Danu sibuk menyalakan satu per satu lentera yang sudah tersedia di sana. Mungkin karena kelelahan, kami semua dengan cepat tertidur pulas.
***
Suasana pagi pulau itu begitu sejuk, berbeda jauh dengan suasana kota tempat di mana aku tinggal dan bekerja. Rasanya aku tidak ingin pulang, tapi kami hanya liburan dan harus kembali dalam waktu beberapa hari. Pemandangannya cukup indah, dikarenakan rumah tempat kami menginap berada di atas bukit, membuat mata dapat melihat luasnya pantai dan bebatuan dari atas sana.
"Hei ... ini curang! Kenapa aku ditinggalkan?" gerutuku, setelah melihat dari kejauhan keceriaan tiga orang di tepi pantai. Tanpa buang-buang waktu aku pun menyusul mereka yang sudah lebih dulu.
Sesampainya di pantai, aku tidak melihat calon istriku--Alun. "Mana Alun?" tanyaku kepada sepupu-sepupuku yang asyik foto-foto di bebatuan besar tepian pantai.
"Bukankah ia masih bersamamu?" tanggap Budi, menolehku sekilas.
Aku sedikit bingung, perasaan sebelum ke luar aku sempat memeriksa rumah dan tidak kutemukan siapapun di sana.
"Jangan bercanda Bud!"
"Serius. Ngapain juga gue bohongin lu! Kalau nggak percaya, tanya saja ke mereka!"
Rihana dan Gunawan mengangguk serempak. Aku tak bertanya lagi, dan memutuskan kembali untuk mencari Alun yang tidak kujumpai di pagi ini. Namun, saat aku baru menaiki bukit, Pak Danu muncul secara tiba-tiba. Aku terkejut dan mundur beberapa langkah, sembari berkata. "Pak Danu! Bikin kaget saja."
"Maaf, Tuan!" ucapnya, sambil membungkuk.
"Tidak apa Pak, lupakan saja! O, iya. Bapak liat Alun?"
"Tidak Tuan. Memangnya Non Alun tidak bersama Tuan atau mereka yang masih foto-foto di sana?"
Aku menggeleng pelan.
"Aduh ... gawat!" ungkap Pak Danu.
Aku jadi heran. "Gawat kenapa Pak?"
"Di sini ada pantangannya Tuan, tidak boleh meninggalkan teman sendirian, apalagi yang ditinggal itu perempuan," jelasnya.
Aku terbelalak dan terdiam.
Pak Danu melanjutkan. "Menurut kabar yang pernah saya dengar, pulau ini menyimpan cerita seram. Setiap tahun akan memakan korban. Menurut cerita, sosok kejam itu memakai topeng dan jubah hitam. Ia tidak segan-segan menghabisi korbannya dengan sebilah parang yang cukup panjang dan tajam."
Aku meneguk ludah. Rasa takut dan khawatir menyerang seketika. Tapi aku masih ingin bertanya. "Apa sosok itu adalah manusia?"
"Entahlah. Belum ada yang bisa menemukannya, bahkan penduduk di sini pun enggan bercerita tentang sosok berjubah itu, mereka takut kalau mereka akan menjadi korban kalau bercerita banyak tentang sosok tersebut," jelas Pak Danu.
Aku jadi penasaran, tetapi kekhawatiranku membuat aku tidak ingin mencaritahu lebih banyak tentang sosok itu. Yang terpikir olehku saat itu adalah mencari Alun yang tak tahu di mana keberadaannya.
"Ayo Pak! Kita harus segara temukan Alun. Aku takut terjadi apa-apa kepadanya," ucapku, mengajak Pak Danu bergegas mencari Alun.
Namun saat aku dan Pak Danu tiba di rumah, mata kami berdua terbelalak setelah melihat banyaknya darah dan rambut cukup panjang berceceran di lantai.
"Apa yang terjadi?"
"Non Alun Tuan ...," jawab Pak Danu lirih.
"Maksud Bapak dia ...?!"
"Ya. Dia sudah jadi korban sosok misterius itu."
Aku terisak, dan langsung memeriksa seluruh kamar di sana. Namun Alun tidak kutemukan kecuali bercak-bercak darah yang masih segar.
"Alun ...!!" aku histeris di sana.
Pak Danu diam saja, ia hanya tertunduk tanpa melihatku. Namun, tiba-tiba telingaku menagkap suara jeritan seorang perempuan.
"Alun ...," ucapku lirih, dan segera berlari menuruni bukit lagi.
***
"Apa yang terjadi?" tanyaku kepada dua sepupuku, Budi dan Gunawan yang terisak melihat jasad Rihana yang lehernya terus mengucurkan darah, dan tanpa memiliki kepala.
Belum ada jawaban dari mereka, malah tangisan yang makin menjadi terdengar di telinga.
"Jawab! Jangan diam saja!" bentakku kepada mereka.
Dengan tersedu-sedan Budi pun menjawab. "Rihana tadi mau buang air kecil. Beberapa saat kemudian, kami pun dikejutkan dengan suara teriakan."
"Apa kalian sempat melihat seseorang?" Pak Danu turut menanyakan.
Budi dan Gunawan menggeleng enggan.
"Lihat!" ujarku, menunjuk tetesan darah di rumput juga jejak yang membuat rumput liar menggelepar.
"Sepertinya baru saja ada orang yang lewat sini. Dan tetesan darah ini menunjukkan bahwa orang itu membawa kepala Rihana. Itu artinya, dia manusia bukan setan atau sejenisnya," ungkapku, mengambil kesimpulan.
"Benar juga! Bagaimana kalau kita ikuti saja jejak ini?" tanggap Pak Danu.
"Ide bagus. Sedikitpun tidak akan kuberikan ampun kepada siapa saja yang telah membunuh orang-orang yang aku sayang!"
Kami pun memutuskan untuk mengikuti jejak itu. Sementara Budi dan Gunawan, memilih tinggal dan membereskan jasad Rihana. Sayangnya, setelah mengikuti jejak itu cukup jauh kami tidak menemukan apa-apa, bahkan kami tak lagi melihat tetesan darah.
"Sial!" gerutuku kesal.
Pak Danu mengajakku kembali, sebari terus mengatakan, "sabar!".
***
Saat tiba di rumah aku benar-benar dikejutkan denga penemuan tiga mayat tergeletak berdekatan. Ketiga mayat itu adalah sepupuku, Gunawan, Budi dan Rihana. Jasad mereka tanpa kepala, namun pada tubuh Budi dan Gunawan penuh dengan luka bacokan.
"Ini tidak mungkin?!" ucapku, masih tak percaya akan peristiwa itu.
"Tuan, sebagiknya kita segera tinggalkan tempat ini!" Pak Danu langsung memberi inisiatif.
"Tapi Pak--"
"Tidak usah pikirkan jasad mereka. Kita pergi dulu dari sini dan lapor Polisi, biar mereka yang menangani kasus ini," potong Pak Danu.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku juga merasa ketakutan dan keselamatanku seolah terancam jika aku berlama-lama berada di pulau yang sudah merenggut nyawa ketiga sepupu dan kekasihku. Dengan berat hati aku mengikuti saran dari Pak Danu. Kami pun bergegas menuju kapal.
***
Hari semakin gelap, saat kami berada di tengah lautan. Aku masih gemetaran, mengingat jasad ketiga sepupuku yang kami tinggalkan. Di saat yang menegangkan, mesin kapal yang dikemudian Pak Danu mendadak mati.
"Ini kenapa lagi Pak?" tanyaku panik.
"Entahlah Tuan. Baru kali ini mesin kapal mengalami masalah," jawabnya, tak kalah panik.
Namun tiba-tiba, sosok berjubah hitam muncul setelah membuka pintu ruang kemudi, tempat di mana aku dan Pak Danu berada.
"Kalian siapa?!" aku benar-benar panik dan takut, melihat sosok berjubah hitam membawa sebilah parang berada dalam satu ruangan.
Pak Danu diam saja, kulihat ia malah tersenyum sinis kepadaku. Bukan itu saja, bahkan tatapan matanya begitu tajam mengambarkan seolah aku ini adalah musuhnya.
"Pak Danu ...! Adakah sesuatu yang bisa membantu?"
Tidak ada jawaban darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu menghantam pundakku. Aku tersungkur, tidak lama kemudian sosok berjubah hitam itu membacok bagian pahaku. Seketika itu pula jeritanku pecah. Aku merintih, menahan sakit luka bacokan di pahaku. Aku menoleh Pak Danu, kulihat ia tertawa senang sambil memegang sebuah pipa besi cukup panjang.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Balas dendam!" seseorang berjubah hitam tiba-tiba muncul, dan ia membawa tiga bungkus plastik transparan berisikan kepala tiga sepupuku.
"Sebenarnya siapa kalian?!" teriakku, melihat kini ada dua sosok berjubah hitam di hadapan.
Mereka tertawa, begitu juga Pak Danu. Aku bingung, sebenarnya permainan apa yang sudah mereka jalankan?
Perlahan, mereka membuka penutup kepala secara bersama. Aku ternganga, melihat salah satunya adalah wanita. Mereka melanjutkan membuka topeng yang menyembunyikan wajah mereka sebenarnya.
"Apa ...?! Alun ...?" aku benar-benar tak menyangka kalau satu di antara sosok berjubah hitam itu adalah Alun, kekasihku sendiri. "Kenapa kau lakukan ini?" lanjutku menanyakan.
"Tomi! Lemparkan kepala-kepala pembunuh-pembunuh itu kepada otak dari aksi mereka dulu!" perintah Alun.
Laki-laki yang juga berperan sebagai sosok berjubah itu melemparkan tiga kepala manusia yang dipegangnya ke arahku. Aku tak bisa bergerak, tapi ingatanku mulai terbayang akan masa lalu. Tomi ..., Tomi ..., Tomi ..., nama itu sudah tidak asing lagi, pikirku saat itu.
"Kau masih ingat aku?!" tiba-tiba lelaki itu menunjukkan wajahnya. Aku terkejut melihat bekas luka bakar hampir di seluruh wajahnya. Sorot matanya membawa aku kembali pada masa lalu.
"Tidak mungkin! Bukankah kau sudah mati?!"
"Hahahaha! Aku tidak akan mati sebelum aku menghabisi manusia kejam yang sudah membunuh orangtua Alun!"
Sesaat aku terdiam. "Tapi, saat itu aku benar-benar tidak mengetahui kalau ibu Alun juga berada di sana!" jawabku.
"Hahaha! Akhirnya kau mengakuinya. Dasar b*jing*n!" Alun mengayunkan parangnya ke arah dadaku. Aku terguling bersimbah darah.
"Apa kau tahu ... akibat perbuatanmu anak dan istriku juga menjadi korban dalam peristiwa itu? Kau berniat menghabisi laki-laki itu dengan cara membakar penginapan tempat di mana dia berada. Kau dan ketiga sepupumu itu tidak memikirkan ada orang lain selain dia di sana. Kalian tidak pedulikan itu. Kalian tetap membakar penginapan tersebut dengan niat membunuh laki-laki itu. Tapi, apa? Dia selamat! Sementara anak dan istriku juga orangtua wanita yang kau kejar-kejar kala itu turut menjadi korbannya! Dan sekarang kau sudah masuk dalam permainan yang sudah lama kami rancang. Dengan penuh kesabaran Alun menjalin hubungan denganmu, dan cerita karangan tentang sosok berjubah itu sudah mengalihkan perhatianmu, sehingga Alun dan Tomi leluasa membunuh ketiga sepupumu. Kamu sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Darah dan rambut yang bececeran di dalam rumah, semua itu adalah setingan, dan sekarang aku akan memberimu hadiah di malam kasih sayang!" jelas Pak Danu dan langsung memberikanku hadia pukulan keras tepat di kepala menggunakan pipa besi.
Aku mengerang, kepalaku pecah, darah mengucur membasahi wajah. Tetapi aku masih bisa bertanya. "Bagaimana kalian bisa mengatahuinya?"
"Aku melihatnya dengan mata kepala. Dan sekarang kau akan menerima balasannya! Terimalah kejutan sampai mati dariku ini!" jawab Aluna, dan langsung mengayunkan parangnya ke kepalaku berkali-kali, membabi buta, diikuti Tomi yang juga membacokku pada bagian dada. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Lambat laun rasa sakit itupun hilang bersamaan dengan pandanganku yang kian memudar. Samar-samar kulihat mereka tertawa senang.
Inilah kedua kalinya aku bekerja di Taiwan, tepatnya di kota Taichung City. Di sini aku bekerja jaga kakek berumur 76 tahun, tulang kakinya patah karena kecelakaan ke tabrak mobil truk. Aku tinggal serumah dengan anak kakek yang laki-laki, menantu serta kedua cucunya. Anak laki-laki dan menantunya itu adalah majikanku, aku memanggilnya ; Tuan dan Nyonya, dan mereka memanggilku Ati.
Tuan dan Nyonya adalah seorang guru musik. Setiap hari sabtu dan minggu, mereka mengajar di rumah, banyak murid yang datang. Rumah majikan bertingkat lima atau lebih jelasnya ada lima lantai. Karena ruang musik ada di lantai 4, di dalam rumah tidak ada lift, jadi aku harus membantu muridnya membawa alat musiknya itu. Dua hari itu aku sangat sibuk sekali, selain mengurus kakek, aku juga harus masak untuk 20 muridnya.
Membutuhkan waktu satu bulan, aku bisa beradaptasi dengan mereka. Kini kerjaan yang beratpun sudah menjadi terbiasa. Apalagi, si kakek yang aku jaga orangnya baik juga, walau berbeda dengan kedua majikanku, mereka pelit. Namun, aku tidak pedulikan hal itu, yang penting gajihku lancar. Hari demi hari kulalui dengan penuh kesabaran.
Seiring bergantinya hari, bulan dan berakhirnya tahun, keadaan kakek semakin membaik, setelah setahun lamanya duduk di kursi roda. Kini dia sudah bisa jalan lagi. Dengan kesembuhan kakek itu, bukannya membuat kerjaanku tambah ringan, malah bertambah banyak. Sekarang Nyonya sering menyuruhku bekerja di rumah temannya.
"Ati, besok pagi kamu bantu bersihkan rumah temanku. Nanti temanku akan kasih tahu, apa saja yang harus kamu kerjakan. Jam 8 pagi, dia akan menjemputmu, dan kamu pulang jam 5 sore. Hari pertama dia akan menjemputmu dan mengantarkanmu pulang, tapi hari kedua kamu pergi sendiri, memakai sepeda onte itu," ucap Nyonya panjang lebar, raut wajahnya kelihatan begitu senang sambil menebarkan senyuman padaku.
"Tapi, Nyonya. Gimana dengan kerjaan rumah kita ini?" tanyaku memelas berharap tidak jadi kerja di rumah temannya itu.
"Dasar bego! Otakmu taruh di mana? kamu bisa membersihkan rumah kita ini, setelah pulang kerja dari rumah temanku," bentak Nyonya begitu emosi, tangannya menyenggung kepalaku.
"Tapi, Nyonya. Masa aku harus cuci baju dan bersih-bersih malam hari! kapan aku istirahatnya?" tanyaku lagi.
"Aku tidak peduli, pokoknya besok kamu harus kerja," jawab Nyonya singkat, dan dia langsung pergi meninggalkanku.
"Sekarang Nyonya sudah berubah, dia tidak peduli lagi padaku, dipikirannya itu hanya ada uang," gumamku sedih, karena besok pagi aku harus bertempur dengan kerjaan baru.
Pagipun tiba, cuaca hari ini kelihatan mendung seperti akan turun hujan. Memang minggu-minggu ini sering hujan. Mobil sedan hitam sudah terpakir di depan rumah, seorang wanita setengah baya, mengenakan blezer hitamnya turun dari mobil. Wanita inilah yang menjemputku untuk bekerja di rumahnya.
"Selamat pagi, Ati?" sapanya.
"Selamat pagi juga," jawabku.
"Kenalkan, aku Xiao Ping teman majikanmu. Kamu panggil aku tante Xiao saja, biar mudah diingat," ucapnya.
"Oh, Tante Xiao," jawabku lirih.
Akupun masuk ke mobilnya, di dalam mobil tante Xiao terus bertanya tentang diriku, seolah dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mungkin dia takut aku orang yang tidak baik. Akupun menjawab apa adanya. Lama berbincang, akhirnya sampai juga. Mataku terbelalak kaget, ketika melihat rumahnya yang megah. Keramiknya besar, di setiap sudut ruang terpajang hiasa yang terbuat dari bebatuan, dan guci-guci yang unik. Aku harus hati-hati membersihkan rumah ini.
Hari pertama aku bekerja di rumah tante Xiao berjalan dengan baik, dan besok aku harus pergi sendiri dengan mengendarai sepeda onte. Jika tidak bekerja, Nyonya pasti akan memarahiku. Aku mencoba untuk terus bersabar, walau sesungguhnya raga sudah letih.
Tapi, lama-kelamaan tubuhku mulai ngedrop, karena bekerja 24 jam non stop. Mesin saja kalau setiap hari dipakai, akan cepat rusak. Apalagi dengan tubuh manusia? Setiap hari tenaganya diperas terus, selama 24 jam tidak ada waktu istirahatnya. Akhirnya aku sakit, demam tinggi. Namun, Nyoya tetap tidak peduli. Nyonya malah menyuruhku terus bekerja.
Selama tiga bulan berturut-turut aku bekerja di rumah temannya itu. Uang hasil kerja kerasku, diambil semua oleh Nyonya. Nyonya sangat bahagia bisa mendapat uang banyak, tanpa harus bekerja keras. Lumayan banyak juga sih, kurang lebih 15 juta. Ingin sekali aku melaporkannya ke pihak Konseling, kalau majikanku sering menyuruhku kerja di rumah orang lain dan uangnya dimakan dia, pasti Nyonya akan kena denda. Tapi, aku takut nanti masalahnya tambah besar.
Hari minggupun telah tiba, di hari minggu ini Tuan beserta anak dan 20 muridnya, akan latihan musik di rumah temannya. Tuan bilang aku harus ikut, karena harus masak untuk mereka. Dari pagi kerjaanku sudah aku selesaikan, tinggal menunggu mereka. Rencananya jam 2 siang, kami berangkat. Sebelum berangkat semua murid harus memerika peralatan musiknya, sudah lengkap belum. Anak Tuan yang berumur 11 tahun, menyuruhku untuk mencari bukunya di lantai 4. Akupun cepat-cepat lari menaiki anak tangga, sampai di sana aku mencari di setiap sudut ruangan. Namun, bukunya tidak ditemukan. Di lantai 1, Tuan terus memanggilku, aku cepat turun. Dan Tuan langsung memarahiku.
"Ati, kamu kemana saja? dari tadi aku memanggilmu," tanya Tuan dengan suasana hati yang kesal.
"Maaf Tuan, tadi aku di lantai 4 mencari buku anakmu," jawabku penuh ketakutan.
"Dasar bego! Buku anaku ada didalam tasku," bentak Tuan dengan emosi tinggi.
Kemudian Tuan langsung berjalan ke luar menuju mobilnya. Lalu aku, anak, dan kedua muridnya masuk ke dalam mobil Tuan. Murid yang lainnya diantar oleh orang tuanya masing-masing. Tuan mulai mengendarai mobilnya, benda yang ada di depan bertuliskan -- No Parkir -- plang itu langsung ditabrak oleh mobil Tuan. Mobil Tuan melaju dengan kecepatan tinggi, tapi mulut Tuan masih memakiku. Aku mencoba untuk bersabar, diam membisu. Namun, ucapan Tuan semakin lama semakin menjadi-jadi. Ucapannya itu bagaikan pisau belati yang menusuk hati. Tuan bilang selama ini, aku kerja cuman tiduran doang, numpang makan, serta tidak kerja, cuman luntar-lantur tidak karuan. Ucapannya membuat hati ini terluka, dan bergerak cepat memerintah mulut bersuara melawannya, jika tidak ingin dimaki lagi.
"Maaf, jika Tuan tidak suka denganku, sekarang juga aku mau pulang," ucapku dengan suara lirih.
Mendengar ucapku tadi, Tuan mendadak mengerem mobilnya. Tuan kelihatan tidak bisa mengontrol emosinya, dia langsung menyuruhku pergi.
"Silahkan kamu ke luar dari mobil ini!" bentak Tuan mengusirku, untuk cepat ke luar dari mobilnya.
Tuan menurunkanku di tengah jalan. Air mata ini tak mampu kubendung lagi, aku menangis. Di sepanjang jalan aku masih menangis, tak peduli orang yang melihatku seperti orang aneh. Aku terus melangkahkan kaki menuju rumah. Setelah lama berjalan, akhirnya sampai rumah juga. Saat kubuka pintu, terlihat Nyonya sedang duduk di ruang tamu. Nyonya terbelalak kaget, ketika melihatku menangis.
"Ati, kamu kenapa?" tanyanya.
"Aku mau pulang, Nyonya," jawabku.
Kemudian aku langsung masuk kamar, dan mengemasi pakaian ke dalam koper. Namun, tiba-tiba Nyonya datang meminta penjelasanku.
"Begini Nyonya, Tuan bilang aku tidak bisa kerja, kerjaanku cuman tiduran doang. Nyonya mungkin tahu sendiri. Kapan aku ada waktu untuk tidur? Pagi, setelah anak Nyonya pergi ke sekolah, Nyonya menyuruhku untuk pergi bekerja di rumah teman Nyonya. Sore hari aku baru pulang, dan langsung kerja rumah sampai tengah malam. Terkadang aku tidak tidur, sampai pagi tiba. Jelas, aku tidak terima Tuan bicara seperti itu. Kalau Nyonya tidak suka aku juga, lebih baik aku pulang. Silahkan Nyonya cari pembantu lain!" aku menjelaskannya panjang lebar.
"Tapi Ati, aku mohon kamu jangan pulang," pinta Nyonya padaku, matanya sudah berkaca-kaca mau menangis.
"Maafkan aku Nyonya, aku sudah tidak kuat lagi kerja di sini. Selama ini aku sudah cukup bersabar, pokoknya aku mau pulang," ungkapku penuh kesedihan.
Wajah Nyonya kelihatan begitu sedih, seolah dia tak ingin aku ke luar dari rumahnya. Tapi, dia tidak bisa lagi memaksaku untuk bekerja. Kini senjapun mulai tenggelam, aku masih terhanyut dalam kesedihan, sambil menunggu Tuan pulang dan agensi datang, minta surat ijin untuk pulang.
'Seperti ini kah caramu mencintaiku? Membiarkanku terbelenggu seperti ini? Bisakah kau membebaskanku?'
***
Rendy, Orang yang mencintai Izzi bertahun - tahun lamanya.
Namun, Izzi tak pernah sedikit pun ada perasaan kepada Rendy. Namun Rendy tak pernah menyerah. Ia sangat mencintai Izzi.
Mencintai seseorang itu tidaklah mudah. Tak seperti yang kalian pikirkan. Rendy sudah pernah menyatakan cinta kepada Izzi, namun ditolak.
Semua yang terjadi setelah itu baik-baik saja, namun keadaan berputar - balik ketika Rendy tahu bahwa Izzi mencintai orang lain.
Api cemburu membakar hati Rendy. Emosi ini sudah tak tertahankan lagi. Namun, sebagai pria gentle, Ia tak mau main labrak.
Hingga pada suatu hari, telinga Rendy mendengar gosip yang sangat panas. Gosip itu berisi bahwa Izzi jadian sama James. Laki-laki kece yang jadi idaman para perempuan.
Hati Rendy makin memanas. Apalagi setelah gosip itu. Namun, saatnya belum tepat untuk membalas semua ini.
Hingga pada saat hari Valentine tiba, Rendy diundang ke club dan bar tempat anak - anak SMK 13,5 berpesta. Rendy datang, namun lagi - lagi nasib sial menimpanya.
Di club itu, Dia melihat Izzi dan James bermesraan, berdansa, serta berciuman.
Spontan, Rendy langsung meludah jijik. Separah ini kah balasan cintanya? Mengapa Izzi tak pernah menghargai perjuangannya? Kalau diibaratkan, cinta Rendy kepada Izzi bagai langit dan bumi.
Begitu besarnya cinta Rendy. Rendy sangat ingin memiliki Izzi, selamanya.
*12 september 2005*
"Hei, teman - teman, nanti malam aku adakan acara pesta ulang tahunku yang ke - 16, datang ya,!" Seru Izzi melalui microfon.
Malamnya, pesta berjalan lancar dan meriah. Pesta itu selesai sekitar jam 00.00 malam. Semua tamu sudah pulang.
James tadi izin ke kamar mandi. Namun sampai saat ini James tak kunjung datang. Padahal Izzi sudah mengantuk, dan kebetulan kedua orang tuanya sedang bekerja di luar kota.
Tiba - tiba, bel rumah Izzi berbunyi nyaring.
'Ah, siapa sih malam larut begini mau bertamu.' Gumam Izzi sambil beranjak membukakan pintu.
"Happy birthday!" Ucap Rendy sambil menggenggam kado di tangannya.
"Boleh kah aku masuk? Untuk sekedar minum teh smile emoticon "Ucapnya lagi.
Izzi hanya diam sambil mempersilahkan Rendy masuk.
Rendy didalam duduk tenang, namun dia ingin buang air kecil.
Rendy dipersilahkan ke kamar mandi oleh Izzi, dan ditinggal ke ruang tamu.
Dari dalam kamar mandi, ada suara teriakan keras meminta tolong.
Lalu Izzi berkata : "Hey, ini sudah malam, jangan berteriak." Kata Izzi cukup keras.
Tanpa sepengetahuan Izzi, mayat James diseret oleh Rendy ke gudang.
Tanpa sepengetahuan Izzi pula, mulut Izzi dibekap oleh Rendy dari belakang, tentunya dengan obat bius.
Dia dimasukkan ke gudang. Lalu dipasung dan dirantai dengan belenggu yang erat.
Setelah Izzi bangun, betapa kagetnya Dia saat mengetahui bahwa dia berada di gudangnya. Lebih kagetnya lagi, Dia melihat mayat James berdarah - darah ada tepat didepannya.
Lalu muncullah sosok Rendy didepannya.
"Hey, kau sudah bangun. Haha minumlah ini dulu." Ucap Rendy sambil menumpahkan kopi panasnya ke kepala Izzi hingga kulit kepalanya hampir terkelupas.
''Apa yang kau lakukan kepadaku dan James? Mengapa kau membunuhnya? Dan mengapa aku terbelenggu seperti ini?" Teriak Izzi namun suaranya melemah akibat panasnya kopi yang ditumpahkan tadi.
"Bodoh! Aku mencintaimu Izzi, tapi apa balasanmu? Kau berciuman dengan si be*at ini didepan mataku! Ini balasanku sekarang"
"Haha! Tak bisa! Apakah kau menyadari yang lebih dari ini? Kau telah membelenggu hatiku dan menggantungnya! Sadarkah kau?"
Setelah berhari - hari seusai percakapan tersebut, Rendy mengambil semua harta Izzi, dan membiarkan Izzi yang berteriak meminta dibebaskan dari siksaannya, sekarang sudah sunyi, karna Izzi mati dengan sendirinya.
Setahun kemudian, orang tua Izzi datang, betapa terkejutnya mereka melihat mayat anaknya dan pacar anaknya tergeletak tak berdaya.
Mereka segera telepon polisi dan mengurus pemakaman. Dibalik bilik tirai jendela, terlihat wajah licik Rendy sambil berkata setengah berbisik : "Sekarang kalian berdua, kalian terorku selanjutnya, aku belum puas menghabisi anakmu. Tunggu aku, orang tua!"
"Huh, tetangga macam apa dia? Seenaknya." Anisa mengepalkan tangannya ketika lagi-lagi Dony mengerjainya. Hari ini Dony menjemput Anisa di sekolah. Tanpa curiga sedikit pun, ia menaiki Ninja Merah milik Dony. Namun, rupanya Dony setengah hati. Masih di pertengahan jalan, Anisa malah diturunkan.
"Kamu bisa pulang sendiri kan? Kamu terlalu berat, Ninjaku bisa kempes memboncengmu," ujarnya dengan tampang mengejek. Tentu saja hal ini membuat Anisa jadi dongkol. Kalau memang tidak mau, ya jangan menawar.
Anisa masih jalan sambil menendangi benda-benda yang ditemuinya. Ketika menendang kaleng minuman tanpa sengaja sebuah toples pecah. Anisa masih berjalan santai. Ia tampak tak peduli. Tanpa disadarinya toples yang pecah tadi mengeluarkan asap tipis. Lalu secara tiba-tiba muncullah sesosok perempuan cantik dari toples itu.
"Waah, aku selamat! Ini pasti gara-gara gadis itu. Ah, aku akan berterima kasih," kata perempuan yang keluar dari toples.
Ia memiliki ukuran tubuh yang kecil sebesar ibu jari. Bentuknya mirip manusia. Ia juga dilengkapi dengan telinga panjang dan lancip. Memiliki rambut yang panjang dan lurut. Matanya biru senada dengan sayapnya yang transparan. Meski dengan tubuh yang kecil, akan tetapi ia memiliki kekuatan besar. Ia adalah seorang peri.
"Hai Anisa," panggil si peri.
Anisa menggeledah segala penjuru dengan pandangan matanya.
"Aneh, perasaan aku mendengar suara memanggilku," gumam Anisa. Hatinya ciut setelah tidak didapatinya siapa pun di sekitarnya. "Mungkin hanya perasaanku saja," pikirnya. Lalu ia berjalan lagi.
"Anisa, tunggu sebentar," ucap peri lagi. Lagi-lagi Anisa tak melihat siapa pun. Ia mulai bergidik ngeri.
"Kamu hantu apa bukan sih? Kalau hantu, kenapa ada hantu di siang bolong begini?" tanya Anisa. Ia terlihat aneh karena bicara sendiri.
"Hai Anisa, aku di sini." Peri itu terbang di hadapan Anisa. Anisa mundur takut-takut.
"Siapa kamu?"
"Aku adalah peri. Kamu pernah mendengar tentang peri?"
"I-iya sih, tapi kupikir peri itu hanya ada di cerita dongeng," tukas Anisa masih tak percaya dengan penglihatannya.
"Sekarang aku ada di hadapanmu, karena kau telah menyelamatkanku dari toples itu. Maka akan kuberikan tiga permintaan."
"Apa maksudmu dengan tiga permintaan?" tanya Anisa bingung.
"Kau ucapkan saja permintaanmu, pasti kupenuhi."
"Bohong," kata Anisa masih tak percaya. "Kamu siapa sih?"
"Kan sudah kukatakan, aku adalah peri."
"Maksudku, namamu siapa? Pasti peri punya nama kan?"
"Apakah ini permintaan pertamamu?"
"Mmm," Anisa ragu.
"Baiklah, kuanggap ini adalah permintaan pertamamu, namaku Elves. Kamu bisa memanggilku El," ujar El memperkenalkan diri.
"Apa? Permintaan pertama? Semudah itu? Kupikir kamu memang peri yang sakti. Ternyata ... "
"Hey, apa maksudmu berkata demikian? Kamu tidak percaya dengan kemampuanku?" tanya El merasa diremehkan.
"Kalau kamu memang punya kekuatan besar, tunjukkan padaku," tantang Anisa.
"Baiklah, karena ini adalah permintaan keduamu, akan kukabulkan," kata El. Ia menggerakkan jarinya lalu tiba-tiba menghilang dengan cepat.
"Apa-apaan itu?" gumam Anisa. Ia mengusap-usap matanya dengan kedua tangan. Dua permintaan emas dilewatkannya begitu saja. Anisa mulai menyesal. Ia merutuki dirinya sendiri mengapa tidak meminta yang lebih berguna untuknya. Misalnya membuat Dony suka lagi kepadanya seperti dulu.
Dulu Anisa dan Dony pernah menjalin asmara. Namun karena ada wanita lain yang lebih cantik, membuat Dony meninggalkan Anisa. Padahal rumah mereka dekat. Biaya apel jadi irit karena kalau mau kencan tinggal jalan lima langkah. Tapi Dony memilih perempuan yang jarak tempuh ke rumahnya hingga 25 kilometer.
Kembali ingatannya berkecimpung menuju Dony. Sudah beberapa hari ini Dony selalu mengerjainya. Setelah putus dari Dony, berat badan Anisa memang meningkat drastis. Namun entah bagaimana asal-muasalnya. Sikap Dony mulai berubah saat Anisa bertambah gemuk. Meskipun sikap yang ditunjukkannya kerap kali membuat Anisa kesal dan dongkol.
"Aku pulang ... " kata Anisa dengan lemas. Ia membuka gerbang besi di rumahnya. Lalu pandangannya tersita oleh keberadaan Dony di ruang tamu.
"Cha," panggil Dony. Icha adalah panggilan kesayangan Dony untuk Anisa. Sejak mereka putus, Dony tak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan itu. Terang saja kali ini Anisa bertambah heran. Ia nyaris berteriak girang. Namun ditahannya, lepas itu ia mengganti emosi menjadi murung.
"Kenapa?" tanya Anisa malas.
"Icha, maaf ya yang tadi?" kata Dony.
"Hmm, yaa ... " jawab Anisa ogah-ogahan.
"Kamu jangan gitu dong Cha, kamu masih marah sama aku?"
"Udah deh jangan basa-basi. Maksudmu apa memanggilku Icha lagi? Maksudmu apa berbuat manis padaku? Untuk mengerjaiku lagi? Memangnya, kemana tuh pacar barumu? Apa karena dia meninggalkanmu, lalu kamu bersikap manis padaku?" tutur Anisa menyindir.
"Bukan, tapi karena aku merindukan kita yang dulu."
Satu kalimat itu membuat jantung Anisa berdegup.
Tapi ia segera menggeleng. Tak mau kena tipu lagi. "Udah deh, jangan basa-basi lagi. Kamu to the point aja langsung," ujar Anisa tambah ketus.
"Cha, bisa nggak kita baik-baik aja kayak dulu?"
Deg!
Jantung Anisa berdetak cepat ketika Dony meraih jemarinya untuk diremas hangat oleh Dony. Ia tak mau ini cuma salah paham. Ia tak mau terbawa perasaan. Ia tak mau Dony hanya mengerjainya. Maka, langsung Anisa melepaskan diri dari Dony.
"Jangan sentuh aku, maaf aku tak bisa!" kata Anisa sambil menatap Dony tajam.
"Aku merindukan masa-masa indah kita dulu," kata Dony masih usaha. "Terus?"
"Terus, kamu mau kan kita kayak dulu?"
"Kamu serius?" tanya Anisa masih kurang yakin.
"Apakah aku terlihat kurang meyakinkan untukmu?" jawab Dony dengan pertanyaan. Anisa menatap Dony lunak. Ia mulai terhipnotis oleh ucapan pemuda itu. Bagaimana pun juga, Anisa tak mau memungkiri bahwa ia juga rindu. Ia merindukan masa-masa bersama Dony dulu.
"Baiklah."
"Beneran nih? Yes! Makasih ya Cha, mulai sekarang kita bisa jadi temen lagi kayak dulu. Makasih Cha," kata Dony. Bagai disambar petir di siang bolong. Hati Anisa langsung runtuh. Tak sanggup menerima kenyataan. Jadi teman seperti dulu. Ia pikir Dony mengajaknya balikan. Tapi cuma jadi teman?
"Kamu mengerjaiku lagi ya?" tanya Anisa jengkel bercampur malu dengan perang di hatinya.
"Bukan, bukan begitu. Sungguh? Kita bisa memulainya dengan berteman kan?" kata Dony. Anisa cemberut. Ia mulai menata hatinya kembali. "Oh ya, Cha, Rezy akan ulang tahun beberapa hari lagi. Aku memikirkan untuk memberi kejutan untuknya. Kamu ada ide?" tanya Dony yang mulai dirasa Anisa bahwa inilah maksud terselubungnya.
"Apa hubungannya denganku?" tanya Anisa acuh.
"Rezy tau, kita pernah punya hubungan. Kadang-kadang ia suka cemburu kalau melihatku bersamamu. Jadi kupikir untuk jalan denganmu beberapa hari menjelang ulang tahunnya."
"Jadi, aku hanya sebagai umpanmu, begitu?"
"Tepat sekali," Dony menjentikkan tangannya.
"Seenaknya!" kata Anisa marah. Ia langsung ke kamar dan mengunci diri.
"Hai Anisa, kamu sedang apa?" panggil Elves. Ia sudah ada di tepian bantal yang ditiduri Anisa.
"Kamu? Untuk apa kamu berada disini?" tanya Anisa. Ia merasa percuma bicara pada peri itu. Percuma Elves memberinya tiga permintaan. Kalau toh Elves juga yang menentukan apakah itu permintaannya atau bukan. Padahal Anisa tak pernah meminta. "Aku sedang pusing, kamu jangan menggangguku. Aku sudah menyelamatkanmu kan? Jadi kurasa kamu sudah aman sekarang."
"Aman bagaimana? Aku sudah berjanji, barang siapa yang menyelamatkanku dari toples itu. Maka akan kuberi tiga permintaan. Kau sudah memperoleh dua permintaan. Tinggal satu permintaan lagi maka barulah aku terbebas dari janjiku," ujar Elves panjang lebar.
Anisa mulai berpikir. Ia ingin memiliki tubuh yang ideal. Ia ingin Dony putus dari Rezi. Ia juga ingin bisa berpacaran lagi dengan Dony. Ia mempunyai banyak keinginan. Namun jatahnya hanya tinggal satu. Ia berpikir keras. Permintaan apakah yang harur ia ajukan. Yan tentu saja dapat mengabulkan semua permintaannya dalam sekali permintaan.
"Ini adalah permintaan ketigaku, aku ingin kau mengabulkan semua permintaanku tanpa batas." Tiba-tiba permintaan itu mengalir begitu saja dari mulutnya.
Elves mematung. Ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Sejak saat itu, apapun yang diinginkan Anisa menjadi titah bagi Elves. Anisa menjadi langsing, Dony putus dengan Rezy, dan ia kembali berpacaran dengan Dony. Namun rupanya Anisa tak pernah puas. Ia mulai menyiksa Elves dengan berbagai permintaan.
"Aku tidak suka dengan Rezy, buat dia jadi terkucilkan. Berikan dia penyakit yang menjijikkan sehingga tidak ada yang berani dekat dengannya." Maka Elves patuh dengan titah penyelamatnya. Ia hanya menggerakkan jarinya dan permintaan Anisa jadi kenyataan.
Anisa mulai egois. Segala tindakan siapa pun yang tak disenanginya maka akan bernasib buruk seperti Rezy bahkan lebih buruk. Hingga suatu hari, ia menemukan Dony mendekati Rezy. Anisa marah besar.
"Aku ingin kalian semua pergi dari hidupku!" Dan tidak perlu menunggu lama. Orang-orang di sekitarnya menghilang. Termasuk Elves. Tinggallah Anisa sendirian.
TAMAT
Nah, bagaimana tulisan mereka? Beberapa mungkin sudah baik, beberapa masih butuh banyak belajar. But,it's okay. Mari kita apresiasi setiap karya yang telah tercipta dengan cara memberikan saran dan kritik yang membangun. Tentunya disampaikan dengan cara yang sopan yah. Selamat membaca dan sampai bertemu di artikel selanjutnya.
Kira-kira dua hari sudah berlalu sejak Makam Panchake dihebohkan sama kegiatan para Hantu di sosial media Facebook yang mengumandangkan #HappyBirthdayPANCHAKE selama satu hari penuh, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2015. Nah, sesuai janji dari Chef Makam Oke Sudrajatt, ada tiga Hantu beruntung mendapatkan kejutan dari Panchake.
Masing-masing pemenang mewakili kategori terheboh, terkeren, dan terlucu. Kurang lebih ada 47 entri ucapan #HappyBirthdayPANCHAKE yang terlacak dengan sistem pencarian otomatis berdasarkan hashtag tersebut. Lalu, dari 47 itu dicari yang paling lengkap persyaratannya seperti:
1. Ucapan #HappyBirthdayPANCHAKE ditulis sebagai status di akun masing-masing.
2. Setting statusnya dibuat public.
Siapa saja yang berhak mendapatkan kejutan dari Panchake? Berikut ini jawabannya:
Kategori Terheboh
Kategori Terkeren
Kategori Terkocak
This is it~ (pake gaya Parah Kwin). So, sebagai perwakilan Penjaga Makam Panchake, saya ucapkan selamat kepada kalian bertiga. Segera hubungi Chef Makam Oke Sudrajatt untuk mengklaim kejutannya. Sampai bertemu lagi di artikel-artikel selanjutnya. Jangan lupa untuk terus aktif membuat karya. Salam literasi.
Berikut ini adalah rekapitulasi karya para Hantu untuk Parade Horor dan Horor Komedi Duet edisi 15 Februari 2015. Tema yang diangkat adalah "Seribu Bisa/Racun" untuk Parade Horor Duet (PHD) dan "Munafik Lo!" untuk Parade Horor Komedi Duet.(PHKD)
Perempuan itu, Kate, sangat menyukai pria yang belum lama dikenalnya.
Entah mengapa, setiap bertemu dengan pria tersebut, yakni Rie, jantung Kate berdebar-debar. Namun, Kate terlahir dengan kondisi tubuh buruk. Dia autis, namun dia mengerti tentang cinta.
Tetapi setiap Rie bertemu Kate, Dia selalu menghindar, meremehkan, dan mengejeknya. Walaupun begitu, Kate tetap saja menyukainya. Suatu saat dia mulai berpikiran bahwa dia sudah tak tahan dengan perlakuan Rie kepadanya.
Apalagi dia selalu melihat kemesraan antara sahabatnya dengan Rie, yaitu Ana. Hati Kate seperti tercabik - cabik melihat itu semua. Ana adalah sahabat terbaiknya. Namun, dia tak menyangka ternyata sahabat yang selama ini baik dengannya, menusuk dari belakang. Kate benci dengan Ana, karna Rie, persahabatan mereka menjadi hancur, walaupun Ana tak mengetahui itu. Dan kabar pahitnya lagi, ternyata Ana dan Rie sudah menjalin hubungan selama tiga bulan lamanya tanpa diketahui oleh Kate.
Kate tak boleh tinggal diam. Dia ingin melakukan sesuatu.
Dia ingin membuat Rie menyukainya, namun hal yang dilakukan Kate adalah hal yang salah, Dia pergi ke dukun untuk meminta bantuan agar Rie bisa mencintainya seperti Kate mencintai Rie, sekalipun itu hal keji yang bisa membuat Kate membunuh orang.
Entah racun atau bujukan apa yang membangkitkan hati Kate menjadi hati iblis. Tanpa basa-basi lagi, Dia segera pergi ke dukun untuk meminta bantuan.
“Kumpulkan tujuh hati perempuan yang kamu benci lalu campurkan darah dari hati tersebut dengan ramuan racun ini yang berasal dari seribu kembang beracun,” begitu kata sang dukun.
Sepulang dari rumah sang dukun, Kate pun mulai melaksanakan perintah dukun tersebut. Tak terasa, dalam enam hari Ia telah mengumpulkan darah dari enam hati perempuan mantan Kate. Kebetulan mantan Kate berjumlah enam orang.
Pada hari ketujuh, tepat pada hari Valentine yaitu tanggal 14 Februari, Dia bingung ingin mengambil darah dari hati siapa. Namun sang perempuan licik itu tidak kehabisan ide, Dia ingin membunuh sahabatnya, namun sekarang telah menjadi musuhnya yang bernama Ana karena sahabatnya itu selalu bermesraan dengan Rie didepan mata kepalanya sendiri.
Kate pun menelpon Ana. Begini percakapan mereka di telepon.
"Halo Ana, bisa-kah kau main ke rumahku jam 8 malam nanti?" tanya Kate memulai telepon.
"Bisa, memangnya ada perlu apa? Apa ada masalah?" jawab Ana dari seberang.
"Ya, aku punya masalah yang sangat besar yang ingin aku selesaikan bersamu," jawab Kate lagi.
"Baiklah kawan, tunggu aku," jawab Ana mengakhiri telepon.
'Hahaha, kawan? Cuih,' Kate berkata sambil meludah. Namun terpasang senyum lebar di wajahnya. Lebih tepatnya senyum licik.
Waktu telah menunjukkan jam 20.00. Ana bergegas ke rumah Kate, dalam waktu lima belas menit Ana sudah sampai di rumah Kate.
Kate mempersilahkan Ana masuk. Kate mengajak Ana ke ruang keluarga. Mereka berbincang - bincang mengenai kehidupan mereka.
"Oh ya Kate, aku ada janji sama Rie. Aku harus segera pergi," kata Ana sembari berdiri.
Kate ke dapur, tapi bukannya mengambil minum tapi Ia mengambil sebilah pisau lipat. Kate segera kembali ke ruang keluarga.
Kate menghampiri Ana yang sedang mendengarkan lagu di headsetnya sembari jarinya menari - nari diatas layar handphone dan menusuk Ana dari belakang dengan pisaunya yang baru saja tadi sore diasah.
Ana menggelepar. Punggungnya dipenuhi bercak darah. Darah menggenangi ruang keluarga Kate. Kate dengan santainya berkata : “Sakit ya? Kau tak tahu bagaimana sakitnya hatiku saat melihat kalian bermesraan." Kate tersenyum licik dan mengambil hatinya.
Tiba - tiba, ada dering SMS di handphone Ana. Itu pesan dari Rie yang berisi :
"Sayang, kau dimana? Aku berada didepan rumahmu."
"Aku di rumah Kate, bisa-kah kau kemari sayang?" jawab Ana yang sebenarnya Kate itu.
"On the way sayang. "
Mengetahui itu, Kate langsung membuka lemari dan memasukkan jasad Ana kedalamnya. Lalu darah yang berceceran segera Ia masukkan ke tempat hati yang lainnya.
'Ting...tong!!!' Bel rumah Kate berbunyi nyaring. Rie dibukakan pintu oleh Kate.
"Hai, di mana Ana?" tanya Rie ramah.
"Masuklah dulu, Ana sedang keluar sebentar."
Sudah 10 menit mereka berbincang. Seperti rencana, Kate mengambilkan Rie minum. Dia mencampurkan seribu racun cinta yang diberikan oleh dukun.
Sembari Kate mengambilkan minum, Rie tak sengaja membuka lemari, betapa terkejutnya dia saat melihat jasad Ana sudah tak berdaya.
Belum sempat diminum, Rie langsung marah besar dan mencaci maki Kate.
Kate tersenyum, dan dengan sigap namun awas, Dia menancapkan pisaunya ke mata Rie, dan mencongkelnta lalu berkata "Ini untuk kau yang memandangku dengan sebelah mata." Lalu dilanjutkan dengan memotong lidah dan bibir Rie dan berkata (pula) "Ini untuk kau yang selalu mengejekku."
Dilanjutkan lagi dengan memotong tangannya lalu berkata (lagi) "Ini untuk kau yang pernah menamparku." Dan Dia yang terakhir mengoyak perut dan dada Rie lalu mengambil hatinya dan berkata (lagi) "Ini untuk kau yang membuat hatiku terkoyak, dan kini hati kau yang harus terkoyak."
Kate agak sedih racunnya tidak bekerja, namun setidaknya sekarang Ia dapat memiliki hati Rie untuk selamanya dan hanya Kate yang boleh memilikinya.
Kate tersenyum licik untuk terakhir kalinya. Sekarang dirumah Kate ada sembilan hati, enam perempuan mantan Kate, satu perempuan kekasih Rie, satu hati Rie, dan satu lagi hati Kate itu sendiri.
Aku terbangun dari tidurku. Rupanya aku masih di dalam kelas. Aku duduk di bangku paling belakang. Mimpi itu selalu saja menghantuiku belakangan ini. Mimpi tentang Yuka. Gadis manis yang pernah menjadi sahabatku. Tapi, ia meninggal sebulan yang lalu. Tak ada yang mengetahui penyebab kematiannya. Aku sendiri tidak yakin dengan keterangan polisi yang menyatakan bahwa Yuka meninggal karena keracunan makanan. Menurutku, lebih dari itu. Ia mungkin dibunuh.
"Jeny, bisakah kita pulang bareng hari ini?" Seorang pemuda jangkung menghampiri mejaku. Aku sedikit mendongak melihat ekor matanya. Ia adalah Deny, mantan pacar Yuka. Belum genap dua bulan Yuka meninggal, Deny sudah mengejarku.
"Maaf aku tidak bisa," kataku. Sebisa mungkin aku ingin selalu menolak Deny. Aku tidak mau di sana Yuka kecewa karena melihat kekasihnya bergandengan dengan temannya sendiri. Sebab aku tahu betul bagaimana Yuka memperlakukan Deny semasa hidupnya. Namun dasar Deny yang keras kepala, ia terus saja memaksa. Sehingga aku tak punya pilihan, selain menerima ajakannya.
"Kita ke rumahku dulu ya? Ada yang ketinggalan," tukasnya ketika kami sampai di kawasan rumah yang bisa dibilang sepi. Awalnya aku menolak. Tapi sekali lagi Deny selalu punya alasan untuk menahanku, dan terpaksa aku pun mengikuti kemauannya.
Deny mengajakku masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah yang sangat tidak layak dikatakan rumah. Lebih seperti gudang pembuangan. Di sana-sini nampak retakan pada dindingnya, belum lagi sarang laba-laba yang bergelayut di langit-langit.
Bergegas Deny membuka pintunya. Bau apek menyeruak, memenuhi penciumanku seketika. Aku dipersilakan duduk di sebuah kursi usang, penuh debu. Sementara Deny berlalu ke ruangan sebelah.
Cukup lama aku menunggu. Beberapa kali kulirik jam tangan untuk membunuh waktu. Namun Deny tak kunjung datang. Mulai jengah, kuputuskan untuk mencarinya.
Saat menaiki anak tangga, ada hal aneh yang kurasakan. Sesosok bayangan hitam berkelebat dari arah belakang tubuhku. Seketika, aroma busuk menyengat, menusuk hidung sampai ulu hatiku. Beberapa kali kubekap mulut dan hidungku, menahan rasa mual yang mendesak ingin keluar.
"Den, Deny, kamu dimana?" Aku mulai memanggil-manggil Deny. Rasa takut menyusup pelan-pelan. Menikam hatiku tanpa ampun.
Krek!
Kudengar suara benda seperti terinjak. "Den, kamu jangan bercanda ya? Ini sudah cukup," kataku menenangkan diri. Namun tetap saja sepi, tak ada yang menjawab.
''Arrrgghh!'' Saat melangkah, tiba-tiba aku terperosok ke dalam sebuah ruangan yang gelap.
Lama aku ambruk. Membiarkan rasa sakit karena jatuh tadi agak berkurang. Tanganku bergerak, meraba-raba mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan pegangan. Aku menemukannya. Tapi ini agak aneh, terasa licin seperti berlendir, tapi keras. Aku terus meraba, dan semakin banyak menemukan benda yang sama. Hanya berbeda ukuran.
Lalu dari kejauhan, setitik cahaya mendekat, dan terus mendekat. Aku terkesiap. Tidak percaya. Cahaya itu berasal dari sebuah lentera yang ditenteng sesosok perempuan. Aku menggosok mata untuk memastikan apa yang kulihat itu benar.
Aku mengenali wajah itu. Rambutnya yang tergerai bebas, dan senyumnya itu.
Tidak sampai di situ. Hal yang mengejutkan kembali terjadi. Samar-samar, aku melihat jalan yang dilalui wanita itu. Berserakan tulang-belulang manusia.
''Y-yuka?'' Perlahan aku bangkit dan mundur, menjauhi sosok wanita yang menyerupai Yuka, atau mungkin dia memang Yuka? ''Kamu kah itu?''
"Aku lapar, bisakah kau membagi sedikit dagingmu untukku?" tanyanya membuka suara. Aku semakin merinding. Apa maksudnya dengan daging? Ia ingin memakanku? Secepatnya aku bergeleng. Ini sudah tidak wajar. Aku mundur ke belakang. Kulihat ia berjalan terseok-seok mengikutiku.
"Aku ingin otakmu, berikan padaku otakmu."
"Tidak, Yuka. Jangan lakukan ini. Tolooong ... "
Aku terus berlari seperti tak punya tujuan. Sebab aku tak menemukan secelah pun jalan keluar. Saat aku terengah, kucoba bersembunyi di sebuah lorong kecil. Nampaknya ini lorong tangga. Tanpa sengaja aku menemukan seorang anak kecil meringkuk memeluk boneka. Ia mengenakan pakaian putih yang lusuh dan kotor. Dan tidak ketinggalan dengan bau yang tidak sedap. Kepalanya menunduk, rambutnya menutupi wajahnya. Samar, bahkan nyaris tak terdengar ia merintih. Kuharap ia bukan sosok orang mati seperti Yuka.
"Kamu siapa?" tanyaku sembari mengecilkan suaraku. Auranya masih segar, tak sama dengan Yuka yang aneh.
"Kakak, tolong aku, aku takut ..., " kata anak itu mengiba. Mungkin ia sama denganku. Dapat merasakan bahwa kami bukan orang mati. Aku mengelus rambut anak itu yang terasa sedikit dingin. "Tolong aku kak, sakit sekali ...," lanjutnya lagi. Saat ia memandangku. Kulihat wajahnya begitu tirus, nyaris mengelupas. Sudut matanya mengeluarkan darah dan ia terus saja mengiba.
"Ka,ka,ka ... " Aku tak dapat melanjutkan kata-kataku. Tapi aku yakin, anak ini belum mati. Tidak seperti Yuka, aku masih merasakan desah nafasnya menyapu wajahku.
"Tolong Kak, sakit ... " Masih saja ia merintih-rintih.
"Apa yang terjadi kepadamu? Jelaskanlah pada kakak," ucapku lirih. Kupapah ia menuju dekapanku.
Serta-merta ia menolak bantuanku.
"Jangan mendekat, ini menular," katanya. Mataku membulat, keringat dingin langsung meluncur menuruni pipiku.
"Lalu bagaimana kakak menolongmu?" tanyaku bingung. Aku berusaha menjaga jarak darinya. Aku tidak mau menjadi seperti anak itu atau pun Yuka.
"Ceritakan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanyaku lagi.
"Aku melihat seorang kakak membubuhkan racun ke dalam minuman seseorang. Lalu ia berubah sepertiku. Bedanya, kakak itu tak merasakan sakit karena ia mungkin sedang pingsan. Sebentar lagi aku akan menyusul kakak itu," ceritanya sambil menahan sakit. "Jadi kakak pergilah dari sini, jangan sampai ketahuan kakak itu," lanjutnya.
Aku semakin tak mengerti. Kebingungan menggerogoti akal sehatku.
"Akh ... Sakit ... "
Pada detik berikutnya ia membeku. Jantungku berdebar-debar. Di luar terdengar gesekan kaki. Mungkin itu Yuka. Dalam ketakutan dan kepanikan disertai kebingungan. Tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tanganku. Hampir saja aku menjerit. Sebelum kemudian aku menyadari bahwa dia Deny.
"Kau kemana saja? Tempat apa ini?" tanyaku.
"Kau jangan banyak bertanya. Ayo kita tinggalkan tempat terkutuk ini."
"Anak ini?" kataku mencoba menahan Deny. Deny memicingkan matanya menatap anak kecil itu.
"Dia sudah mati."
Secepatnya aku mengikuti kemana Deny membawaku.
"Tadi itu tempat apa sih? Dan, mengapa ada Yuka? Apa dia masih hidup?" tanyaku ketika kami sudah berada di ruangan yang lebih layak.
"Ini perbuatan kakakku. Ia menganut ilmu Voodoo. Voodoo merupakan sebuah aliran kepercayaan terhadap Tuhan yang dinamakan Bondye. Ritual Voodoo sebenarnya hampir sama menyerupai ritual santet." Deny menjelaskan tentang Voodoo kepadaku. Aku bergidik. Ngeri juga mendengar kata santet.
"Lalu, apa hubungannya dengan Yuka atau pun anak kecil itu?" tanyaku masih penasaran.
"Kakakku membuat mereka menjadi zombi. Caranya adalah dengan meracuni mereka dengan ramuan yang akan mematikan metabolisme kerja tubuh mereka. Sementara raganya tetap hidup."
"Untuk apa?"
"Menjadikan manusia sebagai zombi adalah untuk bisa disetir oleh orang yang berkepentingan."
Aku menelan ludah mendengar penuturan Deny. Zaman sekarang, di era globalisasi ini, masih juga ada penganut Voodoo.
"Tapi bagaimana itu bisa terjadi pada Yuka? Jelas-jelas polisi mengotopsi mayatnya? Ini mustahil." Aku jelas tak percaya. Ini sulit kumengerti. Bagaimana mungkin orang yang sudah dimakamkan bahkan aku datang di hari pemakamannya. Malah hidup lagi menjadi zombi pula.
"Kau pikir, Yuka benar-benar mati keracunan? Itu hanya manipulasi. Kami penganut ilmu voodoo telah mempersiapkan segalanya. Bahkan kakakku menggali kuburnya dan kemudian mengambil jasadnya." Deny menyeringai. Ia duduk santai di sebuah meja lalu membuat sesuatu. "Cara membuat Yuka seolah-olah mati adalah dengan campuran kulit katak yang biasa disebut 'bufo bufo bufo', kulit katak yang sangat berbahaya. Terdapat beberapa kandungan kimia yang bersifat racun mematikan di dalamnya. Dengan tambahan ikan puffer atau Fugo. Racun ikan ini disebut tetrodotoksin, racun saraf yang mematikan." Deny bangkit dari duduknya. Aku sempat menyadari sesuatu. Bahwa tadi ia mengatakan kami penganut ilmu Voodoo. Itu artinya?
"Ka, ka, kau juga penganut ilmu itu?" tanyaku dengan muka pucat. Ia menyeringai. Di tangannya terdapat campuran kulit katak dan ikan fugo.
"Kau ingin mencobanya? Minumlah, setelah beberapa menit kau akan terlihat mati dengan napas dan detak jantung yang lambat dan lemah. Setelah itu, kau akan menjadi bonekaku."
"Kau gila!" Aku segera bangkit dari kursi. Berusaha menghindar darinya. Aku tak ingin mati konyol dan menjadi zombi. Aku baru menyadari. Inikah arti mimpiku belakangan ini? Bahwa sebaiknya aku menjauhi Deny.
Sriing ... Aku terpeleset menginjak besi yang tergeletak di lantai. Mataku tanpa sengaja menangkap sebilah pisau berkarat. Ketika Deny semakin mendekat. Kuhunuskan pisau itu ke tubuhnya, lalu berlari sejauh mungkin. Sayang, racun mematikan itu mengenaiku sedikit. Perlahan rasa mual menjalar. Dan aku lupa segalanya.
Persahabatan bagai kepompong Mengubah ulat menjadi kupu-kupu, Katanya di lagu sih begitu.
Kuntina, Tuyulo, dan Pocong ganteng bersahabat erat sejak dari zaman Roro jonggrang sampai Roro fitria. Oke abaikan itu yang terlalu berlebihan , tapi sejak mereka jadi hantu di TPU tanah Gadolly mereka bersahabat erat bagaikan panu nempel kemana-mana bersama , suka duka kehujanan kepanasan mereka lakukan bersama dengan penuh suka cita dan derai air mata ... oke back to the laptop. Malam jumat kliwon mereka bersama kumpul di warung Pak Temon bareng-bareng makan Rawon minumnya Es Bonbon. Kuntina terlihat galau malam itu, duduknya gak tenang udah geser kiri geser kanan , garuk-garuk kepalanya yang memang banyak kutu. Pocong ganteng dan tuyulo yang merasakan kegundah gulanaan sahabat mereka akhirnya bertanya pada kuntina.
" Lo kenapa sih? Gelisah gitu pantat lo bisulan ya?" Kata Pocong ganteng sambil nyeruput es bonbon . Kuntina cuma terkikik hambar.
"Ah enggak kok cuma perasaan gue lagi gak enak akhir-akhir ini entah kenapa gue juga kagak tau," ucap Kuntina sambil menyendok Rawonnya.
"Eh, besok malam patroli keliling tuh di kampung Gadolly lu berdua ikut kagak besok kalau gak salah bagian lo deh Kuntina," ucap Tuyulo tiba-tiba.
"Oh gue gak tau Yul, lo sendiri dapet kebagian hari apa? Gue sama siapa ya patroli biasanya kita bertiga ," Kuntina.
"Lo kayaknya sama si Sundeli deh, gue ama Pocong hari setelah lu,"
Tuyul nyomot gorengan. Warung pak temon biasanya rame dengan anak muda yang seneng nongkrong atau sekedar minum kopi. Tetapi malam itu warung Pak Temon sepi pengunjung mungkin gegara malam jumat kliwon, anak muda dan bapak-bapak yang sering nongkrong takut keluar malam-malam. Pak Temon sendiri tengah ngorok di kursi sambil ditemani tiga mahluk tak kasat mata yang asyik makan rawon dan gorengan Pak Temon. Saking bosennya nunggu pelanggan Pak Temon ketiduran. Mungkin Tuhan kasian sama Pak Temon kalau terlalu lama ngorok bisa rugi warungnya yang digasak trio hantu. Akhirnya nyamuk manis masuk ke hidung Pak Temon sampai terbatuk dan bangun. Pak Temon kaget lihat trio hantu lagi asyik gasak dagangannya. Dia pun berteriak histeris
"Hantuuu...." Pak Temon langsung buru-buru nutup warungnya dan mengunci diri, trio hantu yang lagi asyik makan pun kecewa apalagi si Tuyulo yang memang rakus makannya. Mereka pun melenggang pergi meninggalkan warung Pak Temon menuju tempat mereka biasa nongkrong, di pohon waru doyong yang menurut warga kampung Gadolly paling angker.
***
Keesokan malamnya, Kuntina berkeliling patroli di Kampung Gadolly terkadang munculin diri menakuti warga. Malam itu ia ditemani sundeli, Kuntina yang kecapekan memilih istirahat di pohon pete milik Haji Juki.
"Emhhh Kuntina, aku mau ngomong sesuatu sebenernya udah lama sih pengen ngomong tapi gak enak sama kamu," kata sundeli.
"Ya elah ngomong aja keles ada apa gitu?" Ujar Kuntina sembari goyang-goyangin rambutnya yang gimbal.
"Gini, sebenernya aku gak berhak ikut campur cuma ya gitu aku harus ngomong, kemarin itu aku ketemu Pocong ganteng. Dia bilang kalau dia suka sama aku, padahal kan yang aku denger dia pacarmu," ujar Sundeli. Kuntina memanas hatinya cemburu masa sih pocong tega banget ngehianatin hubungan yang sudah terjalin indah begitu lama. Hatinya sakit tapi dia berusaha tegar. Dia gak boleh langsung percaya gitu aja sama ucapan sundeli. Ia sih dia udah lama denger kalau sundeli itu naksir Pocong ganteng udah lama. Tapi gak digubris sama si pocong ganteng, ya siapa tau ini jebakan. Kuntina menarik nafas panjang.
"Pocong bilang apa lagi sama kamu?"
Sundeli tampak ragu kemudian ia berkata," kata Pocong dia bilang gini sama aku, Sundeli aku sukanya sama kamu bukan Kuntina, Kuntina tuh bikin ilfil ketek sama mulutnya bau jengkol kan kamu tau dia penghuni pohon jengkol, kadang tuyul juga suka protes di belakang Kuntina saking baunya' gitu kata si Pocong, makanya aku cerita sama kamu aku gak enak aja gitu. Menurut kamu gimana?" tanya sundeli pada Kuntina.
Kuntina tidak menjawab dia gak nyangka pocong dan tuyul setega itu. Kuntina mewek bombay melayang meninggalkan sundeli yang meneriaki namanya. Setelah melihat Kuntina pergi jauh Sundeli tertawa senang.
"Ha … ha …ha … rasain lo ya gue eneg liat keakraban kalian gue iri sama lo yang selalu diperhatiin warga makam khususnya Pocong dan Tuyulo. Sekarang gue tinggal nunggu berita kehancuran kalian. Tinggal mempengaruhi Tuyulo dan Pocong," Sundeli tertawa cekikikan disertai lolongan anjing Pak Togar.
***
Hari ini adalah Hari Valentine, moment yang sangat di tunggu Kuntina untuk menghabiskan malam bersama dengan Pocong. Namun saying tak seperti yang diharapkan Kuntina, dia sedang marah besar sama Pocong. Harusnya di malam Valentine yang romantic ini Kuntina dapat mangsa banyak dengan menakut-nakuti para Velentine Couple yang sedang diam-diam kencan di warung remang-remang, tempat-tempat sepi biar acara ehem, eh maksudnya ngedatenya gak keganggu, dan tempat yang paling pad adalah di pojok-pojok taman yang tak terkena sinar lampu yang hanya ada tiga di taman itu.
Kuntina duduk tanpa semangat, begitu mencium bau ketek Pocong, Ya iya Kuntina apal secara dia pacarnya bahkan bau ketek dari jarak ribuan mil Pocong bias diciumnya dengan jelas, dia segera beranjak. Okeh! Acara galau rianya sudah selesar ujarnya sambil mematikan music yang ada di handphone jadulnya. Kloek! Lagu Tresno Sudro langsung tercekik dan tak terdengar lagi.
“Kun … Kun … tunggu!” sergah Pocong sambil menarik lengan Kuntina, Cie … seperti di adegan-adegan Ftv ajah. Kuntina menepis tangan Pocong kasar.
Plak! Sebuah tamparan kasar mendarat di pipi Pocong. Uh, atit!!! Pocong pun tercengang. Salah apa dia? Salah apa kau membenciku, eh malah nyanyi.
“Munafik Loe, Cong katanya kamu cintah ma aku, tapi nyatanya kamu lebih milih Sundel dari pada aku. Kamu Jahat … jahat … jahat…” teriak Kunti, hatinya hancur berkeping-keping sementara Pocong masih melongo tak mengerti.
“KAMU KENAPA SIH!”ujar Pocong emosi dengan jantung berdebum tak jelas.
“Sundel bilang kamu gak sukia ma aku, tapi kamu sukanya sama dia, ngaku aja. Kamu jelek-jelekin aku di depan di. Ah, munafik loe, cong!” Jawab Kuntina tak kalah emosi.
“Tidak! Itu fitnah!” elak Pocong.
“Kalau aku beneran suka sama Sundel kenapa aku nyariin kamu, pake bawa-bawa cokelat begini segala.” Tunjuk Pocong pada sekotak cokelat yang di bawanya dan bunga kamboja yang dirangkai untuk Kuntina.
“Iya itu gak bener,Kun” Tuyul datang sambil menyeret paksa Sundell, Sundell Pun merasa malau karena usahanya digagalkan Tuyul.
“Katakan, Ndel. Kamu kan yang ngadu domba kita,” paksa Tuyul pada Sundel. Sundel diam aja tak mau bicara.
“Oke, kalau kamu diam aja akan kukutuk kamu jadi Sundel Buntet biar kamu gak kece lagi,”ketus Tuyul, Tuyul diwarisi aji-aji dari mbah kakungnya dia bisa mengutuk apapun kecuali mengutuk dirinya sendiri jadi tampan.
“Ja-Ja-Jangan! Oke aku ngaku. Memang benar aku nbgadu domba kalian. Aku iri dengan Kunti kenapa dia punya pacar seganteng kamu Cong,” ujar Sundel dengan nada memelas.
“Ndel, kenapa kamu tega lakuin ini. Kamu itu sahabat aku,” sesal Kuntina.
“Udah kita bawa aja ke pengadilan hantu biar dia di hokum,” usul Tuyul, awalnya mereka berdebat tapi demi kebaikan Sundel agar mau berubah akhirnya Kunti mau.
Tinggalah Knti dan Pocong berduaan, Kuntina merasa Malu. Suasana yang romantic di bawah terang bulan yang menyipit di balik awan membuat malam Valentine mereka lebih indah.
“Ini buat kamu,” ujar Pocong sambil menyodorkan sekotak cokelat yang mengkilat, Kunti pun tersipu.
“Terima kasih,” ujar Kuntina malu-malu sambil menerima sekotak kotak cokelat yang berwarna menggoda itu.
“Dimakan dong,Kun.,” ujar Pocong lalu membantu Kuntina membuka bungkus cokelat dan mengambil sepotong lalu menyuapkannya ke Kuntina.
“Enak Gak?” Tanya pocong.
Kuntina tersenyum masam, apa yang harus dikatakan.
“Kok pait Cong,” Tanya kuntina.
“Yang namanya cokelat asli memang pait yang manis mah cumin kamu,” gombal pocong, Kunti terus menelan cokelat lalu mengendus bau cokelat yang masih di dalam kotak.
“Ini aneh, rasanya aneh. Kamu dapat dari mana Cong?”
“Belakang rumahnya Pak Temon, banyak lagi berkarung-karung,” celetuk Pocong bangga. “aku juga yang membungkusnya, bagus kan?” bangga Pocong.
Kunti berpikir sejenak, belakang rumah Pak Temon kan kandang sapi, untuk meyakinkan dirinya dia mengendus lagi cokelat yang tersisa.
“Ini bukan cokelat, Cong, Ini mah tai kebo,” teriak Kunti langsung melempar cokelat itu ke Pocong.
Sabtu malam, makam PANCHAKE terlihat ramai dan meriah. Bertepatan dengan hari Valentine, para hantu tengah merayakan pula acara meriah ulang tahun makam PANCHAKE yang kedua. Terlihat para hantu sangat antusias menyemarakkan acara tersebut. Tak terkecuali Varmut alias Vampir imut serta Kunool alias Kunti Gahool yang telah berdandan rapih sejak sebulan lalu untuk menyambit eh menyambut acara tahunan tersebut.
Varmut telah mengasah taringnya agar runcing dan berkilap. Ia juga memakai wewangian dan tak lupa pula ia memakai bedak setebal lima centi agar menarik perhatian cowok jomblo. Temannya, Kunool pun tak mau kalah. Dia sudah mempersiapkan baju terbaiknya dan berendam dalam air bunga tujuhrupa plus menyan dikiiit aja biar mantap pesonanya.
Varmut yang kebetulan baru saja selesai malak coklat dari muda-mudi yang apel di bawah pohon kemboja tak jauh dari areal makam pun mengajak temannya menyambangi rumah pocong galau yang tidak kelihatan kuncung pocongnya sedari siang. Varmut memang berniat memberikan sebatang coklat untuk Polau alias Pocong Galau di hari Valentine.
Setibanya di depan makam Polau, Varmut memencet bel yang terletak di batu nisan Polau. Tak lama Polau keluar sambil memasang muka jutek di hadapan Varmut.
"Kenapa?" tanya Polau ketus
"Gak apa. Bang Polau gak ikutan pesta nih?" tanya Varmut sambil memasang senyum terbaiknya yang membuat orang yang melihatnya jatuh duduk.
"Males. Lagian aku masih banyak kerjaan."
"Oh. Keluar sebentar yuk bang, kita jalan-jalan. Kalo gak salah Chef Pongejen mau bakar kembang api di alun-alun makam. Kita nonton yuk, sambil makan coklat. Nih aku udah bawa coklatnya,"
Varmut menunjukkan dua bungkus coklat di tangannya. Namun Polau menggeleng dan berkata,
"OGAH!" teriaknya sambil menutup kembali pintu makam dengan kasar.
***
Di bawah pohon asem, Varmut tengah menangis sambil mencakar-cakar tanah setelah mendapat penolakkan dari pocong yang paling ia cintai tersebut. Sedang di sebelahnya, Kunool tengah asyik memakan buah asem dan kue pemberian hantu TKP. Sambil berusaha menenangkan Varmut yang masih menangis guling-guling di tanah.
“Mut, bisa nggak sih lu tuh diem. Bentaar aja. Ilfeel gua dengerin tangisan lu,” ucap Kunool kesal.
“Gimana aku bisa diem, Kun, sakit hati gua. Sakiiit!”
“Lu tuh sebenernya kenapa sih?”
“Polau, Kun. Polau ... ”
“Emang kenapa sih si Polau? Nggigit lu? Nginjek lu?”
“Dia ... dia nggak mau jalan sama aku.”
“Trus masalah buat gue? Udahlah, palingan si Polau lagi nggalau.”
“Tapi kan ....”
“Udah dieem!” Kunool pergi meninggalkan Varmut yang tangisnya semakin menjadi jadi.
***
Derap langkah pocong terdengar jelas di telinga Varmut. Ia segera menghentikan tangisnya dan mengintip si pemilik langkah tersebut.
“Polau? Polau kah?” Senyum di bibir nya semakin mengembang. Alhasil bibirnya malah semakin monyong tak karuan. Taringnya yang semula malu-malu, kini menghiasi wajahnya yang merona kehitaman.
Bruuk!
Varmut segera menghampiri si Pocong yang tiba-tiba jatuh tak karuan.
“Kamu tak apa, Pol ... ”
“Varmut!! Akhirnya kau mau bertemu denganku lagi.”
“Hoeek! Siapa sih yang mau bertemu kamu lagi, Pogi. Liat mukamu aja udah bikin aku muak setengah mati.” Varmut melengos kesal.
“Kamu kan udah mati, Mut.” Tawa si pocong gila itu semakin keras. Varmut hanya bisa pergi dari tempat itu agar hatinya tidak retak lagi.
“Varmuuut! Ke sini bentar deh!” teriak Pogi, genit.
“Ada apa lagi sih! Aku udah nggak mau lagi ngeliat kamu!”
“Penting bangeet, Mut! Sini cepetan deh.”
“Nggak mau!” Varmut mempercepat langkah kakinya.
“Kalo nggak cepet, hatimu aku makan loh.”
“Hati?” Varmut teringat akan sesuatu yang mengganjal di hidungnya. Sesaat ia mulai bersin-bersin tak jelas dari mana asalnya.
“Iya, hatimu.”
Varmut merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia mencoba mengecek tubuhnya dan ia tak menemukan hatinya. Kemana perginya?
“Di mana kah kau sembunyikan hatiku, wahai Pogi sialan!”
“Aku tak menyembunyikan apapun, Mut. Tapi ... kau tak menyadari satu hal.” Pogi memperlihatkan hati Varmut yang telah hancur berkeping-keping di telapak tangannya. “Hatimu jatuh, saat kau menyapaku. Kaulah jodohku, Varmut.”
“Kembalikan hatiku!” Varmut berlari sambil terjatuh-jatuh tak jelas. Ia merebut hatinya di telapak tangan si Pogi. Ia lalu memperbaiki hatinya bak sebuah puzzle dengan air liurnya. “Dengan begini, selesai.” Ia lalu mengembalikan hatinya ke tempat semula dan berlari meninggalkan si Pogi yang tampak kaku karena harapannya terputus.
‘Seandainya aku tak membiarkannya tahu bahwa hatinya telah terjatuh,’ batin si Pogi dengan raut mukanya yang bikin semua hantu ilfeel.
Tak lama kemudian, seorang hantu cantik nongol dari sebuah bilik bambu.
“Hei bro, mukalu kenapa tuh?"
"Kunool, kau tak mengerti perasaanku," ucap Pogi sedih.
"Kalian tuh kenapa sih? Nggak elu, nggak Varmut sama aja. Bosen gua ngeliatnya."
"Varmut juga sama sepertiku? Aduuh, aku tersapu malu!" Pogi mulai berlagak genit tak karuan.
"Trus, gua harus bilang wow gitu? Nggak sudi lah."
"Nah, trus ngapain kamu kesini?"
"Oh iya, tau batang kuncungnya si Polau?"
"Pogi aja kenapa? Pogi kan lebih cool, lebih ganteng, lebih ... lebih yang lebih lebih deh pokoknya."
"Yang bener tuh, elu lebih gila daripada Polau!"
"Apa? Kau tergila-gila padaku? Aww!" Pogi mencubit pipi nya sendiri sambil menggeliat bak cacing kepanasan.
"Udah ah, ancur telinga gua dengerin celotehanmu yang gak ada ujungnya. Bye!" Kunool meninggalkan Pogi yang masih senyum-senyum sendiri. 'Dasar pocong gila!' batin Kunool kesal.
***
Polau duduk dengan senyumannya yang mempesona. Dua batang coklat serta sebuah mawar ungu kecil bertengger di kuncungnya. Ia melihat jam tangannya dan tersenyum. Dengan semangat, ia bergegas pergi ke sebuah tempat favoritnya, batang pohon cabe!
***
"Polauu!" Teriakan cempreng si Varmut terdengar pilu.
"Eh, Varmut." Polau tak mempedulikan kedatangan si vampir imut itu.
"Katanya kamu ada kerjaan? Kok malah sendirian di bawah naungan pohon cabe sih?"
"Ini kerjaanku, Mut." Polau masih cuek dengan kedatangan Varmut.
"Kerjaan apa sih?"
"Nge-date dong!"
"Sa ... sama siapa?" Wajah Varmut bukannya semakin imut malah semakin kusut.
"Sama hantu lah! Masa sama cabe."
"Lau, bukankah kau telah mengatakan padaku bahwa aku adalah pengisi hatimu?"
"Kamu mah apa atuh ... cuma selingkuhan aku. Kamu mah apa atuh ... cuma pacar gelapku." Suara nyanyian Polau yang menakutkannya minta ampun membuat gendang telinga si Varmut meloncat.
"Kamu tegaa, Lau. Kamu tega!" Varmut mengambil gendang telinganya yang tersangkut di batang cabe dan memasangnya kembali. "Siapa sih yang telah merebut hatimu, Lau?"
"Sebentar lagi, dia pasti datang kok."
Tak lama kemudian, seorang hantu cantik datang menghampiri Polau.
"Kunool?!" Varmut terkejut melihat Kunool datang.
"Oh, hai Varmut." Tampang inosen Kunool membuat Varmut semakin kesal.
"Hai, Kunool sayang." Polau menyapa Kunool dengan menyodorkan kuncungnya--tempat bertenggernya coklat dan bunga yang ia siapkan untuk Kunool.
"Apa ... apa apaan ini, Kunool? Ka ... kamu pacaran sama Polau?"
"Iya dong, anniversary ke-7 loh kita." Kunool mengambil coklat dan bunga yang diberikan Polau. " Makasih, yang. Oh iya, kamu kok lama banget sih yang, udah lagi tadi aku ketemu sama si Pogi waktu aku mau nyariin kamu."
"Inikan baru jam 10.00 kan yang?" Polau mengernyitkan dahinya, tanda ia tak mengerti apa yang dikatakan Kunool.
"Udah jam 12.00 keles, noh liat jam tanganku." Polau terkejut melihat jam di tangan Kunool berbeda dengan jam di tangannya. Lalu ia teringat akan suatu hal.
"Maaf, yang. Aku baru ingat kalau jam tanganku ternyata udah rusak. Jam tanganku kemarin kehujanan api."
"Tak apa, yang." Kanool merangkul Polau mesra.
"Kunool, Polau, kalian mengkhianatiku!" Amarah Varmut semakin menjadi-jadi.
"Perasaan enggak deh," ucap Polau cuek.
"Kalian mu ... mu ... munafik! Teganya kalian membohongiku tentang hubungan kalian." teriak Varmut.
"Terus masalah buat lu?" ucap Kunool dan Polau hampir bersamaan.
TAMAT
Terima kasih kepada kalian semua, Hantu yang udah berpartisipasi menunjukkan karyanya. Selamat membaca dan sampai bertemu di Parade Duet edisi selanjutnya.